Tuntunan Shalat Lengkap

Pengertian

Shalat adalah suatu ibadah yang terdiri dari perkataan-perkataan dan perbuatan – perbuatan tertentu yang dimulai dengan takbiratul Ihram dan disudahi dengan Salam disertai dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan.

Definisi Semacam ini telah disepakati oleh para ulama ahli fiqih dimana mereka mengatakan :

 

Artinya : “Shalat adalah perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan yang dimulai dengan takbir dan disudahi dengan Salam yang dengannya itu kita dianggap beribadah (kepada Allah) dengan syarat-syarat yang telah ditentukan. “

Keutamaan Shalat

Didalam Agama Islam Shalat mempunyai kedudukan yang tak dapat ditandingi oleh ibadah-ibadah yang lain. Ada banyak kutipan ayat-ayat Al-qur’an mengenai keutamaan Shalat. Inilah beberapa kutipan tersebut :

 

 

 

 Artinya :”Peliharalah semua Shalat(mu), dan peliharalah shalat wusthaa” (Al Baqarah :238)

 

 

 

 

Artinya :”Dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu” (Thaha : 14)

 

 

 

Artinya :”Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya” (Thaha : 132)

 

Artinya : “Dan dirikanlah olehmu shalat, karena sesungguhnya shalat itu dapat mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar” (Al Ankabut : 45)

 

Artinya : “Dan dirikanlah olehmu akan shalat dan berikanlah olehmu zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’ “(Al-Baqarah : 43)

 

Dengan memperhatikan ayat-ayat tersebut dapat dipahami bahwa Shalat  mempunyai kedudukan tersendiri ,bahkan dalam salah satu hadist dijelaskan bahwa Shalat adalah tiang agama. Sebagaimana sabda Rasullulah Saw yang artinya :

“Shalat adalah tiang agama, barang siapa yang mengerjakannya berarti ia menegakkan agama, dan barang siapa meninggalkannya berarti ia meruntuhkan agama” (HR. Baihaqqi)

Shalat merupakan penghubung antara hamba dengan Tuhannya. Ia merupakan sebesar-besarnya tanda iman dan seagung-agungnya syiar agama. Shalat merupakan tanda syukur atas nikmat yang telah dikaruniakan Allah kepada hambanya. Ia merupakan ibadah yang membuktikan keislaman seseorang.  Shalat adalah ibadah yang sangat mendekatkan hamba kepada Khaliqnya, Hal ini berdasarkan hadits Nabi yang berbunyi :

 

 

Artinya : “Sedekat-dekat hamba kepada Tuhannya ialah dikala hamba itu bersujud (didalam Shalat). Maka banyak-banyaklah berdo’a didalam sujud itu”

 

Peringatan Bagi Orang Yang Meninggalkan Shalat

Shalat merupakan  tiang agama dan merupakan suatu ibadah yang menentukan apakah seseorang itu Islam atau kafir. Sebagaimana sabda Rasulullah :

 

“(Yang menghilangkan pembatas) antara seorang muslim dengan kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)

Didalam hadist dijelaskan oleh Rasulullah s.a.w. tentang ancaman Allah kepada orang yang meninggalkan shalat, sebagai berikut :

1. Dikala mereka hidup didunia :

  1. Dihilangkan keberkahan dari hidupnya.
  2. dihilangkan tanda keshalihan dari mukanya.
  3. tidak berpahala amal-amal perbuatannya
  4. Do’anya tidak diangkap kelangit
  5. Tidak mendapat bagian dalam do’anya orang-orang yang shalih

2. Dikala mereka menghembuskan nafas terakhir dan saat-saat sesudahnya :

  1. Mati dengan penuh kehinaan.
  2. Mati dalam keadaan lapar.
  3. Mati dalam keadaan haus.
  4. Dihimpit kubur dari sebelah kiri dan kanan.
  5. Dinyalakan api Neraka didalam kuburnya.
  6. Didatangkan kepadanya seekorular yang bernama “Asy Syuja’ul Aqra” yang akan menyiksa terus menerus sampai datang hari Mahsyar.
  7. Menderita sengsara dikala hisab pada hari Mahsyar.
  8. Mendapat kemarahan Allah.
  9. Dimasukkan kedalam Neraka

 

Syarat-syarat  Shalat

       Syarat-syarat yang harus dipenuhi sebelum melakukan shalat dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) macam yaitu :

  1. Syarat-syarat wajib shalat

        yaitu syarat-syarat diwajibkannya seseorang mengerjakan shalat. Jadi jika seseorang tidak memenuhi syarat-syarat itu tidak diwajibkan mengerjakan shalat. yaitu :

  1. Islam, Orang yang tidak Islam tidak wajib mengerjakan shalat.
  2. Suci dari Haidl dan Nifas, Perempuan yang sedang Haidl (datang bulan)atau baru melahirkan tidak wajib mengerjakan shalat.
  3. Berakal Sehat, Orang yang tidak berakal sehat seperti orang gila,orang yang mabuk, dan Pingsan tidak wajib mengerjakan shalat.
  4. Baliqh (Dewasa), Orang yang belum baliqh tidak wajib mengerjakan shalat. Tanda-tanda orang yang sudah baliqh :
  1. Sudah berumur 10 tahun. sebagaimana sabda Rasulullah

“Perintahkanlah anak-anak untuk melaksanakan shalat apabila telah berumur tujuh tahun, dan apabila dia telah berumur sepuluh tahun, maka pukullah dia kalau tidak melaksanakannya.” (HR. Abu Daud dan lainnya, hadits shahih)

  1. Mimpi bersetubuh.
  2. Mulai keluar darah haidl (datang bulan) bagi anak perempuan
  1. Telah sampai da’wah kepadanya, Orang yang belum pernah mendapatkan da’wah/seruan agama tidak wajib mengerjakan shalat.
  2. Jaga, Orang yang sedang tertidur tidak wajib mengerjakan shalat.

 

  1. Syarat-syarat sah Shalat

       Yaitu yang harus dipenuhi apabila seseorang hendak melakukan shalat. Apabila salah satu syarat tidak dipenuhi maka tidak sah shalatnya. Syarat-syarat tersebut ialah :

  1. Masuk waktu shalat

Shalat tidak wajib dilaksanakan terkecuali apabila sudah masuk waktunya, dan tidak sah hukumnya shalat yang dilaksanakan sebelum masuk waktunya. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang diten-tukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisa’: 103)

Maksudnya, bahwa shalat itu mempunyai waktu tertentu. Dan malaikat Jibril  pun pernah turun, untuk mengajari Nabi shallallaahu alaihi wasallam tentang waktu-waktu shalat. Jibril  mengimaminya di awal waktu dan di akhir waktu, kemudian ia berkata kepada Nabi shallallaahu alaihi wasallam: “Di antara keduanya itu adalah waktu shalat.”

  1. Suci dari hadats besar dan hadats kecil.

Hadats kecil ialah tidak dalam keadaan berwudhu dan hadats besar adalah belum mandi dari junub. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

Artinya :“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku, dan sapulah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah.” (Al-Maidah: 6)

Sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam : 

 

Artinya :“Allah tidak akan menerima shalat yang tanpa disertai bersuci”. (HR. Muslim)

  1. Suci badan, pakaian dan tempat shalat dari najis,

Adapun dalil tentang suci badan adalah sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam terhadap perempuan yang keluar darah istihadhah :

 

“Basuhlah darah yang ada pada badanmu kemudian laksanakanlah shalat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Adapun dalil tentang harusnya suci pakaian, yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Dan pakaianmu, maka hendaklah kamu sucikan.” (Al-Muddatstsir: 4)

Adapun dalil tentang keharusan sucinya tempat shalat yaitu hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata :

 

“Telah berdiri seorang laki-laki dusun kemudian dia kencing di masjid Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam , sehingga orang-orang ramai berdiri untuk memukulinya, maka bersabdalah Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, ‘Biarkanlah dia dan tuangkanlah di tempat kencingnya itu satu timba air, sesungguhnya kamu diutus dengan membawa kemudahan dan tidak diutus dengan membawa kesulitan.” (HR. Al-Bukhari).

  1. Masuk Waktu Shalat ; Shalat tidak wajib dilaksanakan terkecuali apabila sudah masuk waktunya, dan tidak sah hukumnya shalat yang dilaksanakan sebelum masuk waktunya. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang diten-tukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisa’: 103)

Maksudnya, bahwa shalat itu mempunyai waktu tertentu. Dan malaikat Jibril  pun pernah turun, untuk mengajari Nabi shallallaahu alaihi wasallam tentang waktu-waktu shalat. Jibril  mengimaminya di awal waktu dan di akhir waktu, kemu-dian ia berkata kepada Nabi shallallaahu alaihi wasallam: “Di antara keduanya itu adalah waktu shalat.”

  1. Menutup aurat,  Aurat harus ditutup rapat-rapat dengan sesuatu yang dapat menghalangi terlihatnya warna kulit. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap kali berada ditempat sujud .” (Al-A’raf: 31)

Yang dimaksud dengan pakaian yang indah adalah yang menutup aurat. sedangkan tempat sujud adalah tempat shalat. Para ulama sepakat bahwa menutup aurat adalah merupakan syarat sahnya shalat, dan barangsiapa shalat tanpa menutup aurat, sedangkan ia mampu untuk menutupinya, maka shalatnya tidak sah.

  1. Menghadap kiblat, Orang yang mengerjakan shalat wajib menghadap kiblat yaitu menghadap ke arah Masjidil Charam. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, maka palingkanlah mukamu ke arahnya.” (Al-Baqarah: 144)

 

Rukun-rukun shalat

Shalat itu mempunyai rukun-rukun yang apabila salah satunya ditinggalkan maka tidak sah shalatnya. Rukun-rukun tersebut adalah :

1.

Berniat; Yaitu niat di hati untuk melaksanakan shalat tertentu, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:

 

“Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung niatnya”. (Muttafaq ‘alaih)

Dan niat itu dilakukan bersamaan dengan melaksana-kan takbiratul ihram dan mengangkat kedua tangan, tidak mengapa kalau niat itu sedikit lebih dahulu dari keduanya.

 

2.

Takbiratul Ihram; Yaitu takbir yang pertama kali diucapkan oleh orang yang mengerjakan shalat sebagai tanda mulai mengerjakan shalat dengan lafazh (ucapan): .”Allaahu Akbar” Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam :

 

“Kunci shalat itu adalah bersuci, pembatas antara per-buatan yang boleh dan tidaknya dilakukan waktu shalat adalah takbir, dan pembebas dari keterikatan shalat adalah salam.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, hadits shahih )

 

3.

Berdiri bagi yang sanggup. berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 

“Peliharalah segala shalat(mu) dan (peliharalah) shalat wustha (Ashar). Berdirilah karena Allah (dalam shalat-mu) dengan khusyu’.” (Al-Baqarah: 238)

Dan berdasarkan Sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam kepada Imran bin Hushain:

 

“Shalatlah kamu dengan berdiri, apabila tidak mampu maka dengan duduk, dan jika tidak mampu juga maka shalatlah dengan berbaring ke samping.” (HR. Al-Bukhari)

 

4.

Membaca surat Al-Fatihah wajib pada setiap rakaat shalat fardhu dan shalat sunnah; Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:

 

“Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca surat Al-Fatihah.” (HR. Al-Bukhari)

 

5.

Ruku’ dengan thuma’ninah; bagi orang yang shalat dengan berdiri minimal adalah menunduk kira-kira dua telapak tangannya sampai kelutut dan yang sempurna yaitu betul-betul menunduk sampai datar/lurus antara tulang punggung dengan lehernya (90 derajat) serta meletakan dua telapak tangan kelutut. Ruku’ ini  berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujud-lah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan.” (Al-Hajj: 77)

Juga berdasarkan sabda Nabi shallallaahu alaihi wasallam kepada seseorang yang tidak benar shalatnya:

 

” … kemudian ruku’lah kamu sampai kamu tuma’ninah/ tenang dalam keadaan ruku’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

 

6.

I’tidal dengan thuma’ninah ; artinya berdiri lurus seperti pada waktu membaca Fatihah.Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam terhadap seseorang yang salah dalam shalat-nya:

 

” … kemudian bangkitlah (dari ruku’) sampai kamu tegak lurus berdiri.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

 

7.

Sujud dua kali dengan thuma’ninah; Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah disebutkan di atas tadi. Juga berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:

 

“Kemudian sujudlah kamu sampai kamu tuma’ninah dalam sujud.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

 

8.

Duduk di antara dua sujud dengan thuma’ninah ; Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:

 

“Allah tidak akan melihat kepada shalat seseorang yang tidak menegakkan tulang punggungnya di antara ruku’ dan sujudnya.” (HR. Ahmad, dengan isnad shahih)

 

9.

Duduk dengan tumaninah serta Membaca tasyahhud akhir dan shawalat nabi ; Ada-pun tasyahhud akhir itu, maka berdasarkan perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu yang bunyinya:

“Dahulu kami membaca di dalam shalat sebelum diwajibkan membaca tasyahhud adalah:

 

‘Kesejahteraan atas Allah, kesejahteraan atas malaikat Jibril dan Mikail.’

Maka bersabdalah Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:

 

‘Janganlah kamu membaca itu, karena sesungguhnya Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia itu sendiri adalah Maha Sejahtera, tetapi hendaklah kamu membaca:

 

“Segala penghormatan, shalawat dan kalimat yang baik bagi Allah. Semoga kesejahteraan, rahmat dan berkah Allah dianugerahkan kepadamu wahai Nabi. Semoga kesejahteraan dianugerahkan kepada kita dan hamba-hamba yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasulNya.” (HR. An-Nasai, Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi dengan sanad shahih)
Dan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:

 

“Apabila salah seorang di antara kamu duduk (tasyah-hud), hendaklah dia mengucapkan: ‘Segala penghormatan, shalawat dan kalimat-kalimat yang baik bagi Allah’.” (HR. Abu Daud, An-Nasai dan yang lainnya, hadits ini shahih dan diriwayatkan pula dalam dalam “Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim”)

Adapun duduk untuk tasyahhud itu termasuk rukun juga karena tasyahhud akhir itu termasuk rukun

 

10.

Membaca salam; Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:

 

“Pembuka shalat itu adalah bersuci, pembatas antara perbuatan yang boleh dan tidaknya dilakukan waktu shalat adalah takbir, dan pembebas dari keterikatan shalat adalah salam.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, hadits shahih )

 

11.

Tertib (Melakukan rukun-rukun shalat secara ber-urutan) Oleh karena itu janganlah seseorang membaca surat Al-Fatihah sebelum takbiratul ihram dan jangan-lah ia sujud sebelum ruku’. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam :

 

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.” (HR. Al-Bukhari)

Maka apabila seseorang menyalahi urutan rukun shalat sebagaimana yang sudah ditetapkan oleh Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, seperti mendahulukan yang semestinya diakhirkan atau sebaliknya, maka batallah shalatnya

 

Hal-hal yang wajib dilaksanakan pada waktu shalat

       Yang dimaksud dengan hal-hal yang wajib dilaksanakan itu ialah yang apabila ditinggalkan dengan sengaja menye-babkan shalat seseorang batal, akan tetapi kalau dikarenakan lupa maka tidak mengapa, namun diganti dengan sujud sahwi. Berikut ini penjelasannya.

  1. Membaca takbir perpindahan pada tiap perpindahan dari satu gerakan kepada gerakan lain, seperti ketika bangkit untuk berdiri atau sebaliknya (terkecuali ketika bangkit dari ruku’). Hal ini berdasarkan perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu :

 

“Aku melihat Nabi Shallallaahu alaihi wasallam selalu membaca takbir ketika me-rendahkan dan mengangkat (kepala) ketika berdiri dan duduk.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasai dan lainnya, hadits shahih)

  1. Membaca (Maha Suci Rabbku Yang Maha Agung) sekali ketika ruku’. Hal ini berdasarkan perkataan Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu anhu dalam haditsnya :

 

“Nabi Shallallaahu alaihi wasallam membaca  di dalam ruku’nya dan di dalam sujudnya membaca: (Maha Suci Rabbku Yang Maha Tinggi

  1. Membaca (Maha Suci Rabbku Yang Maha Tinggi) sekali di dalam sujud. Hal ini berdasarkan hadits Hudzaifah di atas.
  2. Membaca (Allah Maha Men-dengar hamba yang memujiNya) bagi imam dan orang yang shalat sendirian. Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu :

 

Sesungguhnya Nabi Shallallaahu alaihi wasallam membaca ketika bangkit dari ruku’, kemudian masih dalam keadaan berdiri beliau membaca . (Muttafaq ‘alaih)

  1. Membaca (wahai Rabb kami bagi-Mu segala pujian) bagi imam dan makmum dan orang yang shalat sendirian. Hal ini berdasarkan hadits yang disebut-kan di atas. Juga berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam :

 

“Apabila imam membaca , maka bacalah   . (Muttafaq ‘alaih)

  1. Membaca do’a berikut di antara dua sujud :         “Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, berikanlah kepadaku petunjuk dan rezki” Atau membaca “Wahai Rabbku ampunilah aku.”  Karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam membaca itu.
  2. Tasyahhud awal.
  3. Duduk untuk melakukan tasyahhud awal. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah kepada Rifa’ah bin Rafi’ :

 

“Apabila kamu melaksanakan shalat, maka bacalah takbir, lalu bacalah apa yang mudah menurut kamu dari ayat Al-Qur’an. Kemudian apabila kamu duduk di per-tengahan shalatmu maka hendaklah disertai tuma’ni-nah, dan duduklah secara iftirasy (bertumpu pada paha kiri), kemudian bacalah tasyahhud.” (HR. Abu Daud dan Al-Baihaqy dari jalannya, hadits hasan)

Sunnat-sunnat shalat

Shalat mempunyai beberapa sunnah yang dianjurkan untuk kita kerjakan sehingga menambah pahala kita menjadi banyak. Di antaranya:

1.

Mengangkat kedua tangan sehingga sama tinggi ujung jari dengan telinga dan telapak tangan setinggi bahu serta keduanya menghadap kiblat pada keadaan sebagai berikut:
– Ketika ber-takbiratul ihram.
– Ketika ruku’.
– Ketika bangkit dari ruku’.
– Ketika berdiri setelah rakaat kedua ke rakaat ketiga.
Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Umar radhiyallahu anhu:

 

“Bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wasallam apabila beliau melaksanakan shalat, beliau mengangkat kedua tangannya sampai sejajar dengan kedua bahu beliau, kemudian membaca takbir. Apabila beliau ingin ruku’ beliau pun mengangkat kedua tangannya seperti itu, dan begitu pula kalau beliau bangkit dari ruku’.” (Muttafaq ‘alaih)

Adapun ketika berdiri untuk rakaat ketiga, hal ini ber-dasarkan apa yang dilakukan Ibnu Umar, dimana beliau apabila berdiri dari rakaat kedua beliau mengangkat kedua tangannya. (HR. Al-Bukhari secara mauquf, Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: Dan riwayat ini dihukumi marfu’). Dan Ibnu Umar menisbatkan hal tersebut kepada Nabi Shallallaahu alaihi wasallam.

 

2.

Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di atas dada atau di bawah dada dan di atas pusar. Hal ini berdasar-kan perkataan Sahl bin Sa’d radhiyallahu anhu:

 

“Orang-orang (di masa Nabi Shallallaahu alaihi wasallam) disuruh untuk meletak-kan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat.” (HR. Al-Bukhari secara mauquf. Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: ”Riwayat ini dihukumi marfu’)

Dan berdasarkan hadits Wail bin Hijr radhiyallahu anhu:

 

“Saya pernah shalat bersama NabiShallallaahu alaihi wasallam , kemudian beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kiri di atas dadanya.” (HR. Ibnu Huzaimah, shahih)

 

3.

Senantiasa melihat ketempat sujud, kecuali pada waktu membaca “Asyhadu alla ilaaha ilallaah” maka pada waktu itu melihat ke telunjuknya.

4.

Membaca do’a iftitah sesudah takbiratul ihram sebelum membaca al Fatihah. Ada beberapa contoh do’a iftitah, di antaranya:

 

“Ya Allah, jauhkanlah jarak antara aku dan dosa-dosaku sebagaimana Engkau jauhkan jarak antara timur dan barat. Ya Allah bersihkanlah aku dari segala dosa-dosaku sebagaimana pakaian yang putih dibersihkan dari noda. Ya Allah, basuhlah dosa-dosaku dengan air, es dan embun.” (Muttafaq ‘alaih)

 

“Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memujiMu. Maha Suci namaMu dan Maha Tinggi kebesaranMu, dan tiada Ilah selain Engkau.” (HR. Muslim secara mauquf -terhenti sanadnya kepada Umar bin Khattab dan diriwayatkan oleh Abu Daud, At-Tirmidzi dan Al-Hakim secara marfu’ -bersambung sanad-nya hingga kepada Nabi Shallallaahu alaihi wasallam-, shahih)

 

5.

Membaca isti’adzah pada rakaat pertama dan membaca basmalah dengan suara pelan pada tiap-tiap rakaat. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Maka apabila kamu membaca Al-Qur’an, maka hen-daklah kamu memohon perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (An-Nahl: 98)

 

6.

Membaca aamiin setelah membaca surat Al-Fatihah. Hal ini disunnahkan kepada setiap orang yang shalat, baik sebagai imam maupun makmum atau shalat sendirian. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam:

 

“Apabila imam membaca  maka bacalah aamiin. Maka sesungguhnya barangsiapa yang bacaan aamiin-nya berbarengan dengan aamiin-nya malaikat, maka akan diampuni segala dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dengan maknanya)

dan sebelum membaca Aamiin disunahkan pula untuk membaca “Rabbighfirlii waliwaalidayya

 

7.

Membaca ayat setelah membaca surat Al-Fatihah. Dalam hal ini cukup dengan satu surat atau beberapa ayat Al-Qur’an pada dua rakaat shalat Subuh dan dua rakaat pertama pada shalat Dhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam:

 

“Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam ketika shalat dzuhur membaca Ummul Kitab (Al-Fatihah) dan dua surat pada dua rakaat pertama, dan beliau membaca Ummul Kitab saja pada dua rakaat berikutnya dan terkadang beliau perdengar-kan ayat (yang dibacanya) kepada para sahabat.” (Muttafaq ‘alaih)

 

8.

Mengeraskan bacaan Al-Fatihah dan surat pada waktu shalat jahriah (yang dikeraskan bacaannya) dan merendahkan suara pada shalat sirriah (yang dipelankan bacaannya). Yaitu mengeraskan suara pada dua rakaat yang pertama pada shalat Maghrib dan Isya dan pada kedua rakaat shalat Subuh. Dan merendahkan suara pada yang lainnya. Ini semuanya dalam pelaksanaan shalat fardhu, dan ini tsabit (dicontohkan) dan populer dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam, baik secara perkataan maupun perbuatan. Adapun pada shalat sunnah, maka dianjurkan untuk merendahkan suara apabila dilaksanakan pada siang hari dan disunnahkan mengeraskan suara jika shalat sunnah itu dilaksanakan pada waktu malam hari, terkecuali apabila takut mengganggu orang lain dengan bacaannya itu, maka disunnahkan baginya untuk merendahkan suara ketika itu.

 

9.

Membaca takbir “Allahu akbar” ketika turun dan bangkit kecuali ketika bangkit dari ruku’ 

 

10.

Membaca “Sami’ allahu liman chamidah” ketika bangkit dari ruku’.

 

11.

Membaca “Rabbanna lakal chamdu mil-ussamaawaati wamilul ardli wamil umaasyi’ta min syai-in ba’d” ketika i’tidal.

 

12.

Meletakan kedua telapak tangan diatas lutut ketika ruku’.

 

13.

Membaca tasbih “Subchaana rabbiyal ‘azhiimi wabichamdih” tiga kali ketika ruku’.

 

14.

Membaca tasbih “Subchaana rabbiyal a’laa wabichamdih” tiga kali ketika sujud.

 

15.

Membaca do’a “Rabbighfirlii warchamnii wajburnii warfa’ nii warzuqnii wahdinii wa’aafinii wa’fu ‘annii” ketika duduk antara dua sujud.

 

16.

Cara duduk yang tsabit (diriwayatkan) dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam dalam shalat adalah duduk iftirasy (bertumpu pada paha kiri) pada semua posisi duduk dan semua tasyahhud selain tasyahhud akhir. Apabila ada dua tasyahhud dalam shalat itu, maka dia harus duduk tawarruk pada tasyahhud akhir. Hal ini berdasarkan perkataan Abu Hamid As-Sa’idi di hadapan para sahabat. Ketika ia menerangkan shalat Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam, di antaranya menyebut-kan: “Maka apabila beliau duduk setelah dua rakaat, beliau duduk di atas kaki kiri sambil menegakkan telapak kaki kanan, dan apabila beliau duduk pada rakaat akhir beliau majukan kaki kiri sambil menegakkan telapak kaki yang satunya, dan beliau duduk di lantai.” (HR. Al-Bukhari)

Dari penjelasan di atas dapat kita pahami apa arti iftirasy dan apa arti tawarruk.

Iftirasy: Yaitu duduk di atas kaki kiri sambil menegak-kan telapak kaki kanan.
Tawarruk : Yaitu Meletakkan telapak kaki kiri di bawah betis kanan, kemudian mendudukkan pantat di alas/lantai dan menegakkan telapak kaki kanan.

Keterangan: Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam, apabila duduk tasyahhud, beliau meletakkan tangan kirinya di atas paha kiri dan tangan kanannya di atas paha kanan, kemudian beliau menelunjukkan dengan jari telunjuk. (HR. Muslim)
Dan beliau tidak melebihkan pandangannya dari telunjuk itu. (HR. Abu Daud, shahih)

 

17.

Berdo’a pada waktu sujud. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam:

 

“Ketahuilah! Sesungguhnya aku dilarang membaca Al-Qur’an ketika ruku’ dan sujud. Adapun yang dilakukan pada waktu sujud maka hendaklah kamu membesarkan Rabbmu dan pada waktu sujud maka hendaklah kamu bersungguh-sungguh berdoa, niscaya dikabulkan do’a-mu.” (HR. Muslim)

 

18.

Membaca shalawat untuk Nabi Shallallaahu alaihi wasallam pada waktu tasyahhud akhir, yaitu setelah membaca tasyahhud:

lalu membaca:

 

“Ya Allah, bershalawatlah Engkau untuk Nabi Muhammad dan juga keluarganya sebagaimana Engkau bershalawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan berkatilah Nabi Muhammad beserta keluarganya seba-gaimana Engkau telah memberkati Nabi Ibrahim dan juga keluarganya. Pada sekalian alam, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia). (HR. Muslim dan lainnya dengan sanad shahih)

 

19.

Berdo’a setelah selesai dari membaca tasyahhud dan membaca shalawat untuk Nabi dengan do’a yang dicontohkan Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam. Beliau bersabda:

 

“Apabila salah seorang kamu selesai membaca shalawat, maka hendaklah ia berdo’a untuk meminta perlindungan dari empat hal, kemudian dia boleh berdo’a sekehendaknya, keempat hal tersebut adalah:

 

“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari siksa Neraka Jahannam, siksa kubur, fitnah hidup dan fitnah mati serta fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.” (HR. Al-Baihaqy, shahih)

 

20.

Salam kedua ke kiri. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Muslim:

 

“Bahwasanya Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam melakukan salam ke kanan dan ke kiri sehingga terlihat putihnya pipi beliau.” (HR. Muslim)

 

21.

Beberapa dzikir dan do’a setelah salam. Telah diriwayatkan beberapa dzikir dan do’a setelah salam dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam yang disunnahkan untuk dibaca. Di sini akan kami pilihkan beberapa dzikir dan do’a, di antaranya:

 

Dari Tsauban radhiyallaahu anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam, apabila selesai shalat beliau membaca istighfar tiga kali(1) dan membaca:

 

“Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Sejahtera, dari Mulah kesejahteraan, Maha Suci Engkau wahai Rabb Yang Maha Agung dan Maha Mulia.” (HR. Muslim)

 

“Dari Mu’adz bin Jabal , bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wasallam pada suatu hari memegang tangannya, kemudian bersabda, ‘Wahai Mu’adz, sesungguhnya aku mencintai kamu, aku berpesan kepadamu wahai Mu’adz, janganlah kamu tinggalkan setelah selesai shalat membaca do’a:

 

“Ya Allah, tolonglah aku di dalam berdzikir, bersyukur dan beribadah dengan baik kepadamu.” (HR. Imam Ahmad, Abu Daud dan Al-Hakim, hadits shahih)

 

“Dari Mughirah bin Syu’bah , bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membaca pada tiap selesai shalat fardhu:

 

“Tiada sesembahan yang hak melainkan Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. MilikNyalah ke-rajaan dan pujian, sedang Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah tidak ada yang mampu mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang mampu memberi apa yang Engkau cegah. Dan tidaklah berguna kekuasaan seseorang dari ancaman siksaMu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

 

“Dari Abu Hurairah , bahwa Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Siapa yang membaca tasbih ‘ ‘ 33 kali dan tahmid ‘ ‘ 33 kali serta takbir ‘ ‘ 33 kali (jumlahnya menjadi 99), kemudian menggenapkan hitungan keseratus dengan bacaan:

 

(Tiada sesembahan yang haq melainkan Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. MilikNya kerajaan dan segala pujian, sedang Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu), maka ia akan diampuni kesalahan-kesalahannya sekalipun sebanyak buih di lautan’.” (HR. Muslim)

 

“Dari Abu Umamah , bahwa NabiShallallaahu alaihi wasallam bersabda, ‘Ba-rangsiapa membaca Ayat Kursi pada tiap-tiap selesai shalat, maka tidak ada lagi yang menghalanginya untuk masuk Surga hanya saja dia akan meninggal dunia’.” (HR. An-Nasai, Ibnu Hibban dan Ath-Thabrani, shahih)

 

Dari Sa’d bin Abi Waqqas , bahwasanya dia mengajari anak-anaknya beberapa bacaan sebagaimana halnya ketika seorang guru mengajari anak-anak menulis, dan dia berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam memohon perlindungan kepada Allah dengan membaca bacaan-bacaan tersebut pada tiap-tiap selesai shalat, yaitu:

 

“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari sifat kikir dan pengecut. Aku berlindung kepadaMu agar aku tidak dija-dikan pikun. Dan aku berlindung kepadaMu dari fitnah (cobaan) dunia dan dari siksa kubur.” (HR. Al-Bukhari

Hal-hal yang diperbolehkan dalam shalat

Diantara hal-hal yang diperbolehkan dalam shalat yaitu :

1.

Membetulkan bacaan imam. Apabila imam lupa ayat tertentu maka makmum boleh mengingatkan ayat tersebut kepada imam. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Umar :

 

“Bahwa Nabi Shallallaahu alaihi wasallam shalat, kemudian beliau membaca suatu ayat, lalu beliau salah dalam membaca ayat tersebut. Setelah selesai shalat beliau bersabda kepada Ubay, ‘Apakah kamu shalat bersama kami?’, ia menjawab, ‘Ya’, kemudian beliau bersabda, ‘Apakah yang menghalangi-mu untuk membetulkan bacaanku’.” (HR. Abu Daud, Al-Hakim dan Ibnu Hibban, shahih)

 

2.

Bertasbih atau bertepuk tangan (bagi wanita) apa-bila terjadi sesuatu hal, seperti ingin menegur imam yang lupa atau membimbing orang yang buta dan sebagainya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam:

 

“Barangsiapa terjadi padanya sesuatu dalam shalat, maka hendaklah bertasbih, sedangkan bertepuk tangan hanya untuk perempuan saja.” (Muttafaq ‘alaih)

 

3.

Membunuh ular, kalajengking dan sebagainya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam:

 

“Bunuhlah kedua binatang yang hitam itu sekalipun dalam (keadaan) shalat, yaitu ular dan kalajengking.” (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, shahih)

 

4.

Mendorong orang yang melintas di hadapannya ketika shalat. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam:

 

“Apabila salah seorang di antara kamu shalat meng-hadap ke arah sesuatu yang menjadi pembatas baginya dari manusia, kemudian ada yang mau melintas di hadapannya, maka hendaklah dia mendorongnya dan jika dia memaksa maka perangilah (cegahlah dengan keras). Sesungguhnya (perbuatannya) itu adalah (atas dorongan) syaitan.” (Muttafaq ‘alaih)

 

5.

Membalas dengan isyarat apabila ada yang me-ngajaknya bicara atau ada yang memberi salam kepadanya. Dasarnya ialah hadits Jabir bin Abdullah :

 

“Dari Jabir bin Abdullah , ia berkata, ‘Telah mengutus-ku Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam sedang beliau pergi ke Bani Musthaliq. Kemudian beliau saya temui sedang shalat di atas onta-nya, maka saya pun berbicara kepadanya. Kemudian beliau memberi isyarat dengan tangannya. Saya ber-bicara lagi kepada beliau, kemudian beliau kembali memberi isyarat sedang saya mendengar beliau membaca sambil memberi isyarat dengan kepalanya. Ketika beliau selesai dari shalatnya beliau bersabda, ‘Apa yang kamu kerjakan dengan perintahku tadi? Sebenarnya tidak ada yang menghalangiku untuk bicara kecuali karena aku dalam keadaan shalat’.” (HR. Muslim)

Dari Ibnu Umar, dari Shuhaib , ia berkata: “Aku telah melewati Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam ketika beliau sedang shalat, maka aku beri salam kepadanya, beliau pun membalasnya dengan isyarat.” Berkata Ibnu Umar: “Aku tidak tahu terkecuali ia (Shuhaib) berkata dengan isyarat jari-jarinya.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan selain mereka, hadits shahih)

Dari sini dapat kita ketahui, bahwa isyarat itu terkadang dengan tangan atau dengan anggukan kepala atau dengan jari.

 

6.

Menggendong bayi ketika shalat. Hal ini berdasar-kan hadits Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam:

 

“Dari Abu Qatadah Al-Anshari berkata, ‘Aku melihat Nabi Shallallaahu alaihi wasallam mengimami shalat sedangkan Umamah binti Abi Al-‘Ash, yaitu anak Zainab putri Nabi Shallallaahu alaihi wasallam berada di pundak beliau. Apabila beliau ruku’, beliau meletak-kannya dan apabila beliau bangkit dari sujudnya beliau kembalikan lagi Umamah itu ke pundak beliau.” (HR. Muslim)

 

7.

Berjalan sedikit karena keperluan. Dalilnya adalah hadits Aisyah radhiallaahhu anha:

 

“Dari Aisyah radhialaahu anha, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam sedang shalat di dalam rumah, sedangkan pintu tertutup, kemudian aku datang dan minta dibukakan pintu, beliau pun berjalan menuju pintu dan membukakannya untukku, kemudian beliau kembali ke tempat shalatnya. Dan terbayang bagiku bahwa pintu itu menghadap kiblat.” (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, hadits hasan)

 

8.

Melakukan gerakan ringan, seperti membetulkan shaf dengan mendorong seseorang ke depan atau menarik-nya ke belakang, menggeser makmum dari kiri ke kanan, membetulkan pakaian, berdehem ketika perlu, menggaruk badan dengan tangan, atau meletakkan tangan ke mulut ketika menguap. Hal ini berdasarkan hadits berikut:

 

“Dari Ibnu Abbas , ia berkata, ‘Aku pernah menginap di (rumah) bibiku, Maimunah, tiba-tiba Nabi Shallallaahu alaihi wasallam bangun di waktu malam mendirikan shalat, maka aku pun ikut bangun, lalu aku ikut shalat bersama Nabi Shallallaahu alaihi wasallam, aku berdiri di samping kiri beliau, lalu beliau menarik kepalaku dan menempatkanku di sebelah kanannya.” (Muttafaq ‘alaih)

Hal-hal yang makruh didalam shalat

Yang dimaksud makruh yaitu :  perbuatan yang apabila dikerjakan tidak membatalkan shalat tetapi jika ditinggalkan akan mendatangkan pahala. Oleh karena itu  sebaiknya ditinggalkan.

1.

Menengadahkan pandangan ke atas. Hal ini ber-dasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam:

 

“Apa yang membuat orang-orang itu mengangkat peng-lihatan mereka ke langit dalam shalat mereka? Hendak-lah mereka berhenti dari hal itu atau (kalau tidak), nis-caya akan tersambar penglihatan mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkannya dengan makna yang sama)

 

2.

Meletakkan tangan di pinggang. Hal ini berdasar-kan larangan Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam meletakkan tangan di pinggang ketika shalat. (Muttafaq ‘alaih)

 

3.

Menoleh atau melirik, terkecuali apabila diperlukan. Hal ini berdasarkan perkataan Aisyah radhiallaahu anha. Aku ber-tanya kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam tentang seseorang yang me-noleh dalam keadaan shalat, beliau menjawab:

 

“Itu adalah pencurian yang dilakukan syaitan dari shalat seorang hamba.” (HR. Al-Bukhari dan Abu Daud, lafazh ini dari riwayatnya)

 

4.

Melakukan pekerjaan yang sia-sia, serta segala yang membuat orang lalai dalam shalatnya atau menghilangkan kekhusyu’an shalatnya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam:

 

“Hendaklah kamu tenang dalam melaksanakan shalat.” (HR. Muslim)

 

5.

Menaikkan rambut yang terurai atau melipatkan lengah baju yang terulur. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam:

 

“Aku diperintahkan untuk sujud di atas tujuh anggota badan dan tidak boleh melipat baju atau menaikkan rambut (yang terulur).” (Muttafaq ‘alaih)

 

6.

Menyapu kerikil yang ada di tempat sujud (dengan tangan) dan meratakan tanah lebih dari sekali. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam:

 

“Dari Mu’aiqib, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam menyebutkan tentang menyapu di masjid (ketika shalat), maksudnya menyapu kerikil (dengan telapak tangan). Beliau bersabda, ‘Apabila memang harus berbuat begitu, maka hendaklah sekali saja’.” (HR. Muslim)

 

“Dari Mu’aiqib pula, bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam bersabda tentang seseorang yang meratakan tanah pada tempat sujudnya (dengan telapak tangan), beliau bersabda, ‘Kalau kamu melakukannya, maka hendaklah sekali saja’.” (Muttafaq ‘alaih)

 

7.

Mengulurkan pakaian sampai mengenai lantai dan menutup mulut (tanpa alasan).

 

“Dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam melarang mengulurkan pakaian sampai mengenai lantai dalam shalat dan menutup mulut.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, hadits hasan)

Adapun jika menutup mulut karena hal seperti menguap ataupun yang lainnya maka hal tersebut dibolehkan sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits.

 

8.

Shalat di hadapan makanan. Ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam:

 

“Tidak sempurna shalat (yang dikerjakan setelah) makanan dihidangkan.” (HR. Muslim)

 

9.

Shalat sambil menahan buang air kecil atau besar, dan sebagainya yang mengganggu ketenangan hati. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam:

 

“Tidak sempurna shalat (yang dikerjakan setelah) makanan dihidangkan dan shalat seseorang yang menahan buang air kecil dan besar.” (HR. Muslim)

 

10.

Shalat ketika sudah terlalu mengantuk. Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam bersabda:

 

“Apabila salah seorang di antara kamu ada yang me-ngantuk dalam keadaan shalat, maka hendaklah ia tidur sampai hilang rasa kantuknya. Maka sesungguhnya apabila salah seorang di antara kamu ada yang shalat dalam keadaan mengantuk, dia tidak akan tahu apa yang ia lakukan, barangkali ia bermaksud minta ampun kepada Allah, ternyata dia malah mencerca dirinya sendiri.” (Muttafaq ‘alaih)

Hal-hal yang membatalkan shalat

Shalat seseorang akan batal jika melakukan hsalah satu hal dibawah ini :

1.

Makan dan minum dengan sengaja. Hal ini ber-dasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam:

 

“Sesungguhnya di dalam shalat itu ada kesibukkan tertentu.” (Muttafaq ‘alaih) (1)

Dan ijma’ ulama juga mengatakan demikian.

 

2.

Berbicara dengan sengaja, bukan untuk kepentingan pelaksanaan shalat.

 

“Dari Zaid bin Arqam radhiallaahu anhu, ia berkata, ‘Dahulu kami berbicara di waktu shalat, salah seorang dari kami berbicara kepada temannya yang berada di sampingnya sampai turun ayat: ‘Dan hendaklah kamu berdiri karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’(1), maka kami pun diperintahkan untuk diam dan dilarang berbicara.” (Muttafaq ‘alaih)

Dan juga sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam:

 

“Sesungguhnya shalat ini tidak pantas ada di dalamnya percakapan manusia sedikit pun.” (HR. Muslim)

Adapun pembicaraan yang maksudnya untuk mem-betulkan pelaksanaan shalat, maka hal itu diperbolehkan seperti membetulkan bacaan (Al-Qur’an) imam, atau imam setelah memberi salam kemudian bertanya apakah shalat-nya sudah sempurna, apabila ada yang menjawab belum, maka dia harus menyempurnakannya. Hal ini pernah terjadi terhadap Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam , kemudian Dzul Yadain ber-tanya kepada beliau, ‘Apakah Anda lupa ataukah sengaja meng-qashar shalat, wahai Rasulullah?’ Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam menjawab, ‘Aku tidak lupa dan aku pun tidak bermaksud meng-qashar shalat.’ Dzul Yadain berkata, ‘Kalau begitu Anda telah lupa wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Apa-kah yang dikatakan Dzul Yadain itu betul?’ Para sahabat menjawab, ‘Benar.’ Maka beliau pun menambah shalatnya dua rakaat lagi, kemudian melakukan sujud sahwi dua kali. (Muttafaq ‘alaih)

 

3.

Meninggalkan salah satu rukun shalat atau syarat shalat yang telah disebutkan di muka, apabila hal itu tidak ia ganti/sempurnakan di tengah pelaksanaan shalat atau sesudah selesai shalat beberapa saat. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam terhadap orang yang shalatnya tidak tepat:
“Kembalilah kamu melaksanakan shalat, sesungguhnya kamu belum melaksanakan shalat.” (Muttafaq ‘alaih)

Lantaran orang itu telah meninggalkan tuma’ninah dan i’tidal. Padahal kedua hal itu termasuk rukun.

 

4.

Banyak melakukan gerakan, karena hal itu bertentangan dengan pelaksanaan ibadah dan membuat hati dan anggota tubuh sibuk dengan urusan selain ibadah. Adapun gerakan yang sekadarnya saja, seperti memberi isyarat untuk menjawab salam, membetulkan pakaian, menggaruk badan dengan tangan, dan yang semisalnya, maka hal itu tidaklah membatalkan shalat.

 

5.

Tertawa sampai terbahak-bahak. Para ulama se-pakat mengenai batalnya shalat yang disebabkan tertawa seperti itu. Adapun tersenyum, maka kebanyakan ulama menganggap bahwa hal itu tidaklah merusak shalat sese-orang.

 

6.

Tidak berurutan dalam pelaksanaan shalat, seperti mengerjakan shalat Isya sebelum mengerjakan shalat Maghrib, maka shalat Isya itu batal sehingga dia shalat Maghrib dulu, karena berurutan dalam melaksanakan shalat-shalat itu adalah wajib, dan begitulah perintah pelaksanaan shalat itu.

 

7.

Kelupaan yang fatal, seperti menambah shalat menjadi dua kali lipat, umpamanya shalat Isya’ delapan rakaat, karena perbuatan tersebut merupakan indikasi yang jelas, bahwa ia tidak khusyu’ yang mana hal ini me-rupakan ruhnya shalat

Tata Cara Shalat

1.

Seorang muslim yang hendak melakukan shalat hendaklah berdiri tegak setelah masuk waktu shalat dalam keadaan suci dan menutup aurat serta menghadap kiblat dengan seluruh anggota badannya tanpa miring atau menoleh ke kiri dan ke kanan.

Kemudian berniat untuk melakukan shalat yang ia maksudkan di dalam hatinya tanpa diucapkan. (lihat shalat-shalat wajib)

 

 

2.

 

Kemudian melakukan takbiratul ihram, yaitu membaca Allahu Akbar sambil mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya ketika takbir.

Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di atas dada atau di bawahnya, tetapi di atas pusar.

Kemudian membaca do’a iftitah,lalu  ta’awwudz (a’udzu billahi minasy syaithanirrajim) dan basmalah, kemudian membaca Al-Fatihah dan apabila telah selesai  dia membaca aamiin. contoh salah satu do’a iftitah :

 

3.

 

 

 

Allahu akbar kabiiraw walchamdulillaahi katsiiraw wasubchaanallaahi bukrataw wa-ashiilaa. Inni wajjahtu wajhiya lilladzii fatharassamaawaati wal-ardla chaniifam muslimaw wamaa ana minal musyrikiin. Inna shalaatii wanusukii wamachyaaya wamamaatii lillaahi rabbil ‘aalamiina laa syariika lahuu wabidzaalika umirtu wa-ana minal muslimiin.

Surat Al fatihah :

 

Bismillaahirrachmaanirraachiim.”

“Alchamdulillaahi rabbil ‘aalamiin. Arrachmaanirrachiim. Maaliki yaumiddiin. Iyyaaka na ‘budu wa iyyaaka nasta’iin. Ihdinashshiraathal mustaqiim. Shiraathalladziina ‘an’amta ‘alaihim qhairil maqhdluubi ‘alaihim waladldlaallin

Aamiin

4.

Kemudian membaca salah satu surat atau apa yang mudah baginya di antara ayat-ayat Al-Qur’an. 
misalnya surat Al-Ikhlash : 

Bismillaahirrachmaanirraachiim.”

Qulhuwallahu achad Allaahushshamad. Lam yalid walam yuulad. Walam yakullahuu kufuwan achad.

5.

Kemudian mengangkat kedua tangan sejajar dengan bahunya lalu ruku’ sambil mengucapkan Allahu Akbar selanjutnya memegang dua lutut dengan kedua tapak tangan dengan meratakan tulang punggung, tidak mengangkat kepalanya juga tidak terlalu membungkukkannya, dan jari-jari tangannya hendaknya dalam keadaan terbuka.

 

 

6.

Pada saat ruku’, membaca  : 

 

Subchaana rabbiyal ‘azhiimi wabichamdih” sebanyak tiga kali. artinya “Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung dan dengan memuji kepadaNya”.
 

7.

 

Kemudian bangkit dari ruku’ seraya mengangkat kedua tangan sejajar dengan kedua bahu sambil membaca   “Sami’allaahu liman Chamidah” artinya :“Allah Maha Mendengar orang yang memujiNya” sehingga tegak berdiri dalam keadaan i’tidal, kemudian membaca do’a :

 

Rabbanaa lakal chamdu mil-ussamaawaati wamil-umaasyi’ta min syai-in ba’d
artinya “Wahai Tuhan  kami, bagiMu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi serta sepenuh apa saja yang Engkau kehendaki setelah itu”
 

 

8.

Kemudian sujud sambil mengucapkan Allahu Akbar, lalu sujud bertumpu pada tujuh anggota sujud, yaitu dahi (yang termasuk di dalamnya) hidung, dua telapak tangan, dua lutut dan ujung dua tapak kaki. Hendaknya diperhatikan agar dahi dan hidung betul-betul mengenai lantai, serta merenggangkan bagian atas lengannya dari samping badannya dan tidak meletakkan lengannya (hastanya) ke lantai dan mengarahkan ujung jari-jarinya ke arah kiblat.
 

 

 

9.

Kemudian membaca

 

Subchaana rabbiyal a’laa wabichamdih “sebanyak tiga kali. artinya : “Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi dan dengan memuji kepadaNya”  
 

10.

Bangkit dari sujud sambil mengucapkan Allahu Akbar, kemudian duduk iftirasy, yaitu bertumpu pada kaki kiri dan duduk di atasnya sambil menegakkan telapak kaki kanan seraya membaca: 

Rabbiqhfirlii warchamnii wajburnii warfa’nii warzuqnii wahdinii wa’aafinii wa’fu ‘annii”  artinya: “Wahai Tuhanku ampunilah aku,kasihanilah aku,cukupilah kekuranganku,angkatlah (derajat)ku beririzqilah aku,beri petunjukla aku, sehatkanlah aku dan ma’afkanlah aku.”
 

11.

Kemudian sujud lagi seperti di atas, lalu bangkit untuk melaksanakan rakaat kedua sambil bertakbir. Kemudian melakukan seperti pada rakaat pertama, hanya saja tanpa membaca do’a iftitah lagi. Apabila telah menyelesaikan rakaat kedua hendaknya duduk untuk melaksanakan tasyahhud. Apabila shalatnya hanya dua rakaat saja seperti shalat Subuh, maka membaca tasyahhud kemudian membaca shalawat Nabi shallallaahu alaihi wasallam, lalu langsung salam, dengan mengucapkan:
  “Assalaamu ‘alaikum warachmatullaah”  yang artinya : “Semoga kesejahteraan dan rahmat Allah bagimu.” Sambil menoleh ke kanan, kemudian mengucapkan salam lagi sambil menoleh ke kiri.
 

12.

 

Jika shalat itu termasuk shalat yang lebih dari dua rakaat, maka ketika selesai membaca tasyahhud. salah satu bunyi tasyahhud : 

 

Attachiyyatul mubaarakaatush shalawaatuth thayyibaayulillaah. Assalaamu ‘alaika ayyuhannabiyyu warachmatullaahi wabaraakatuh. Assalaamu ‘alaina wa’alaa ‘ibaadillaahishshaalichiin. Asyhadu allaa ilaaha illallaah, wa-asyhadu anna Muchammadarrasuulullah. Allaahummashalli ‘alaa Muchammad“.

Kemudian bangkit berdiri sambil mengucapkan takbir dan mengangkat kedua tangan sejajar dengan kedua bahu, lalu mengerjakan rakaat berikutnya seperti rakaat sebelumnya, hanya saja terbatas pada bacaan surat Al-Fatihah saja.
 

13.

Kemudian duduk tawarruk, yaitu dengan menegakkan telapak kaki kanan dan meletakkan telapak kaki kiri di bawah betis kaki kanan, kemudian mendudukkan pantat di lantai serta meletakkan kedua tangan di atas kedua paha. Lalu membaca tasyahhud, serta membaca shalawat kepada Nabi shallallaahu alaihi wasallam  

 

 

 

Wa ‘alaa aali Muchammad kamaa shallaita ‘alaa Ibraahim wa’alaa aali Ibraahim. Wabaarik ‘alaa Muchammad wa ‘alaa aali Muchammad kamaa baarata ‘alaa Ibraahim wa ‘alaa aali Ibraahiim. Fil ‘aalamiina innaka chamiidum majiid

dan disunnatkan meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari empat hal berikut:

“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari siksa api Neraka, siksa kubur, fitnah hidup dan mati, dan dari fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.”
 

14.

Kemudian mengucapkan salam    “Assalaamu ‘alaikum warachmatullaah” dengan suara yang jelas sambil menoleh ke kanan, lalu mengucapkan salam kedua sambil menoleh ke kiri.

 

Sujud Sahwi

Sujud sahwi ialah sujud yang dilakukan orang yang shalat sebanyak dua kali untuk menutup kekurangan yang terjadi dalam pelaksanaan shalat yang disebabkan lupa.

Sebab-sebab sujud sahwi ada tiga; Karena kelebihan, karena kurang, dan karena ragu-ragu. Keterangannya sebagai berikut:

a. Sujud Sahwi Karena Kelebihan

Barangsiapa kelupaan dalam shalatnya kemudian dia menambah ruku’, atau sujud, maka dia harus sujud dua kali sesudah menyelesaikan shalatnya dan salamnya. Hal ini berdasarkan hadits berikut:

 

“Dari Ibnu Mas’ud radhiallaahu anhu, bahwa Nabi shallallaahu alaihi wasallam shalat Dhuhur lima rakaat, kemudian beliau ditanya, ‘Apakah shalat Dhuhur ditambah rakaatnya?’, beliau balik bertanya, ‘Apa itu?’ Para sahabat menjelaskan, ‘Anda shalat lima rakaat.’ Kemudian beliau pun sujud dua kali setelah salam. Dalam riwayat lain disebutkan, beliau melipat kedua kakinya dan menghadap kiblat kemudian sujud dua kali, kemudian salam.” (Muttafaq ‘alaih)

Salam sebelum shalat selesai berarti termasuk kele-bihan dalam shalat, sebab ia telah menambah salam di pertengahan pelaksanaan shalat. Barangsiapa mengalami hal itu dalam keadaan lupa, lalu dia ingat beberapa saat setelahnya, maka dia harus menyempurnakan shalatnya kemudian salam, setelah itu dia sujud sahwi, kemudian salam lagi. Dalilnya adalah hadits Abu Hurairah radhiallaahu anhu:

 

“Dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu, bahwasanya Nabi shallallaahu alaihi wasallam shalat Dhuhur atau Ashar bersama para sahabat. Beliau salam setelah shalat dua rakaat, kemudian orang-orang yang bergegas keluar dari pintu masjid berkata, ‘Shalat telah diqashar (dikurangi)?’ Nabi pun berdiri untuk bersandar pada sebuah kayu, sepertinya beliau marah. Kemudian berdirilah seorang laki-laki dan bertanya kepadanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah Anda lupa atau memang shalat telah diqashar?.’ Nabi berkata, ‘Aku tidak lupa dan shalat pun tidak diqashar.’ Laki-laki itu kembali berkata, ‘Kalau begitu Anda memang lupa wahai Rasulullah.’ Nabi shallallaahu alaihi wasallam bertanya kepada para sahabat, ‘Benarkah apa yang dikatakannya?’. Mereka pun menga-takan, ‘Benar.’ Maka majulah Nabi shallallaahu alaihi wasallam, selanjutnya beliau shalat untuk melengkapi kekurangan tadi, kemudian salam, lalu sujud dua kali, dan salam lagi.” (Muttafaq ‘alaih)

b. Sujud Sahwi Karena Kekurangan

Barangsiapa kelupaan dalam shalatnya, kemudian ia meninggalkan salah satu sunnah muakkadah (yaitu yang termasuk katagori hal-hal wajib dalam shalat), maka ia harus sujud sahwi sebelum salam, seperti misalnya kelupaan melakukan tasyahhud awal dan dia tidak ingat sama sekali, atau dia ingat setelah berdiri tegak dengan sempurna, maka dia tidak perlu duduk kembali, cukup baginya sujud sahwi sebelum salam. Dalilnya ialah hadits berikut:

 

“Dari Abdullah bin Buhainah radhiallaahu anhu, bahwa Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam shalat Dhuhur bersama mereka, beliau langsung berdiri setelah dua rakaat pertama dan tidak duduk. Para jama’ah pun tetap mengikuti beliau sampai beliau selesai menyempurnakan shalat, orang-orang pun menunggu salam beliau, akan tetapi beliau malah bertakbir padahal beliau dalam keadaan duduk (tasyahhud akhir), kemu-dian beliau sujud dua kali sebelum salam, lalu salam.” (Muttafaq ‘alaih)

c. Sujud Sahwi Karena Ragu-ragu

Yaitu ragu-ragu antara dua hal, yang mana yang terjadi. Keragu-raguan terdapat dalam dua hal, yaitu antara ke-lebihan atau kurang. Umpamanya seseorang ragu apakah dia sudah shalat tiga rakaat atau empat rakaat.

Keraguan ini ada dua macam:

1. Seseorang lebih cenderung kepada satu hal, baik kelebihan atau kurang, maka dia harus menurutkan mengambil sikap kepada yang lebih ia yakini, kemudian dia melakukan sujud sahwi setelah salam. Dalilnya hadits berikut:

 

“Dari Abdullah Ibnu Mas’ud radhiallaahu anhu, bahwasanya Nabi shallallaahu alaihi wasallam bersabda, ‘Apabila salah seorang dari kamu ada yang ragu-ragu dalam shalatnya, maka hendaklah lebih memilih kepada yang paling mendekati kebenaran, kemudian menyempurnakan shalatnya, lalu melakukan salam, selanjutnya sujud dua kali’.” (Muttafaq ‘alaih)

2. Ragu-ragu antara dua hal, dan tidak condong pada salah satunya, tidak kepada kelebihan dalam pelaksanaan shalat dan tidak pula pada kekurangan. Maka dia harus mengambil sikap kepada hal yang sudah pasti akan kebe-narannya, yaitu jumlah rakaat yang lebih sedikit. Kemudian menutupi kekurangan tersebut, lalu sujud dua kali sebelum salam, ini berdasarkan hadits berikut:

 

“Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallaahu anhu, bahwasanya Nabi shallallaahu alaihi wasallam bersabda, ‘Apabila salah seorang di antara kamu ragu-ragu dalam shalatnya, dia tidak tahu berapa rakaat yang sudah ia lakukan, tigakah atau empat? Maka hendaknya ia meninggalkan keraguan itu dan mengambil apa yang ia yakini, kemudian ia sujud dua kali sebelum salam. Jika ia telah shalat lima rakaat, maka hal itu menggenap-kan pelaksanaan shalatnya, dan jika ia shalat sempurna empat rakaat, maka hal itu merupakan penghinaan (pengecewaan) terhadap syaitan’.” (HR. Muslim)

Ringkasnya, bahwa sujud sahwi itu adakalanya sebelum salam dan adakalanya sesudah salam.
Adapun sujud sahwi yang dilakukan setelah salam ialah pada dua kondisi:

  1. Apabila karena kelebihan (dalam pelaksanaan shalat).
  2. Apabila karena ragu antara dua kemungkinan, tapi ada kecondongan pada salah satunya.

Sedangkan sujud sahwi yang dilakukan sebelum salam, juga pada dua kondisi:

  1. Apabila dikarenakan kurang (dalam pelaksanaan shalat).
  2. Apabila dikarenakan ragu antara dua kemungkinan dan tidak merasa lebih berat kepada salah satunya.

Hal-hal Penting Berkenaan Dengan Sujud Sahwi

  1. Apabila seseorang meninggalkan salah satu rukun shalat, dan yang tertinggal itu adalah takbiratul ihram, maka shalatnya tidak terhitung, baik hal itu terjadi secara sengaja ataupun karena lupa, karena shalatnya tidak sah. Dan jika yang tertinggal itu selain takbiratul ihram, dan ditinggalkan secara sengaja, maka batallah shalatnya. Jika tertinggal secara tidak sengaja, dan dia sudah berada pada rukun yang ketinggalan tersebut pada rakaat kedua, maka rakaat yang ketinggalan ru-kunnya tadi itu dianggap tidak ada, dan dia ganti dengan rakaat yang berikutnya. Dan jika ia belum sampai pada rakaat kedua, maka ia wajib kembali kepada rukun yang ketinggalan tersebut, kemudian dia kerjakan rukun itu, begitu pula apa-apa yang setelah itu. Pada kedua hal ini, wajib dia melakukan sujud sahwi setelah salam atau sebelumnya
     
  2. Apabila sujud sahwi dilakukan setelah salam, maka harus pula melakukan salam sekali lagi.
     
  3. Apabila seseorang yang melakukan shalat meninggal-kan sunnah muakkadah (hal-hal yang wajib dalam shalat) secara sengaja, maka batallah shalatnya. Jika ketinggalan karena lupa, kemudian dia ingat sebelum beranjak dari sunnah muakkadah tersebut, maka hendaklah dia melaksanakannya dan tidak ada konsekwensi apa-apa. Jika ia ingat setelah melewatinya tapi belum sampai kepada rukun berikutnya, maka hendak-lah dia kembali untuk melaksanakan rukun tersebut. Kemudian dia sempurnakan shalatnya serta melakukan salam. Selanjutnya sujud sahwi kemudian salam lagi. Jika ia ingat setelah sampai kepada rukun yang berikut-nya, maka sunnah (muakkadah) itu gugur dan dia tidak perlu kembali kepadanya untuk melakukannya, akan tetapi terus melaksanakan shalatnya kemudian sujud sahwi sebelum salam seperti kami sebutkan di atas pada masalah tasyahhud awal

Shalat berjama’ah

a. Hukum Shalat Berjama’ah

Shalat berjama’ah itu adalah wajib bagi tiap-tiap mukmin, tidak ada keringanan untuk meninggalkannya terkecuali ada udzur (yang dibenarkan dalam agama). Hadits-hadits yang merupakan dalil tentang hukum ini sangat banyak, di antaranya:

 

“Dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu , ia berkata,Telah datang kepada Nabi shallallaahu alaihi wasallam seorang lelaki buta, kemudian ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak punya orang yang bisa menuntunku ke masjid, lalu dia mohon kepada Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam agar diberi keringanan dan cukup shalat di rumahnya.’ Maka Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam memberikan keringanan kepadanya. Ketika dia berpaling untuk pulang, beliau memanggilnya, seraya berkata, ‘Apakah engkau mendengar suara adzan (panggilan) shalat?’, ia menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘Maka hendaklah kau penuhi (panggilah itu)’.” (HR. Muslim)

 

“Dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu ia berkata: ‘Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda, ‘Shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya’ dan shalat Subuh. Seandainya mereka itu mengetahui pahala kedua shalat tersebut, pasti mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Aku pernah berniat memerintahkan shalat agar didirikan kemudian akan kuperintahkan salah seorang untuk mengimami shalat, lalu aku bersama beberapa orang sambil membawa beberapa ikat kayu bakar mendatangi orang-orang yang tidak hadir dalam shalat berjama’ah, dan aku akan bakar rumah-rumah mereka itu’.” (Muttafaq ‘alaih)

 

“Dari Abu Darda’ radhiallaahu anhu, ia berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda, ‘Tidaklah berkumpul tiga orang, baik di suatu desa maupun di dusun, kemudian di sana tidak dilaksanakan shalat berjama’ah, terkecuali syaitan telah menguasai mereka. Maka hendaklah kamu senan-tiasa bersama jama’ah (golongan yang banyak), karena sesungguhnya serigala hanya akan memangsa domba yang jauh terpisah (dari rombongannya)’.” (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai dan lainnya, hadits hasan )

 

“Dari Ibnu Abbas , bahwasanya Nabi shallallaahu alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa mendengar panggilan adzan namun tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya, ter-kecuali karena udzur (yang dibenarkan dalam agama)’.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan lainnya, hadits shahih)

 

“Dari Ibnu Mas’ud radhiallaahu anhu, ia berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam mengajari kami sunnah-sunnah (jalan-jalan petunjuk dan kebenaran) dan di antara sunnah-sunnah tersebut adalah shalat di masjid yang dikuman-dangkan adzan di dalamnya.” (HR. Muslim)

b. Keutamaan Shalat Berjama’ah

Shalat berjama’ah mempunyai keutamaan dan pahala yang sangat besar, banyak sekali hadits-hadits yang menerangkan hal tersebut di antaranya adalah:

 

“Dari Ibnu Umar radhiallaahu anhuma , bahwasanya Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda, ‘Shalat berjama’ah dua puluh tujuh kali lebih utama daripada shalat sendirian.” (Muttafaq ‘alaih)

 

“Dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu, ia berkata,’Bersabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, ‘Shalat seseorang dengan berjama’ah lebih besar pahalanya sebanyak 25 atau 27 derajat daripada shalat di rumahnya atau di pasar (maksudnya shalat sendi-rian). Hal itu dikarenakan apabila salah seorang di antara kamu telah berwudhu dengan baik kemudian pergi ke masjid, tidak ada yang menggerakkan untuk itu kecuali karena dia ingin shalat, maka tidak satu langkah pun yang dilangkahkannya kecuali dengannya dinaikkan satu derajat baginya dan dihapuskan satu kesalahan darinya sampai dia memasuki masjid. Dan apabila dia masuk masjid, maka ia terhitung shalat selama shalat menjadi penyebab baginya untuk tetap berada di dalam masjid itu, dan malaikat pun mengu-capkan shalawat kepada salah seorang dari kamu selama dia duduk di tempat shalatnya. Para malaikat berkata, ‘Ya Allah, berilah rahmat kepadanya, ampunilah dia dan terimalah taubatnya.’ Selama ia tidak berbuat hal yang mengganggu dan tetap berada dalam keadaan suci’.” (Muttafaq ‘alaih)

c. Berjama’ah dapat dilaksanakan sekalipun dengan seorang makmum dan seorang imam

Shalat berjama’ah bisa dilaksanakan dengan seorang makmum dan seorang imam, sekalipun salah seorang di antaranya adalah anak kecil atau perempuan. Dan semakin banyak jumlah jama’ah dalam shalat semakin disukai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

“Dari Ibnu Abbas radhiallaahu anhuma , ia berkata, ‘Aku pernah bermalam di rumah bibiku, Maimunah (salah satu istri Nabi shallallaahu alaihi wasallam), kemudian Nabi shallallaahu alaihi wasallam bangun untuk shalat malam, maka aku pun ikut bangun untuk shalat bersamanya, aku berdiri di samping kiri beliau, lalu beliau menarik kepalaku dan menempatkanku di samping kanannya’.” (Muttafaq ‘alaih)

 

“Dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah radhiallaahu anhuma, keduanya berkata, ‘Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa ba-ngun di waktu malam hari kemudian dia membangunkan isterinya, kemudian mereka berdua shalat berjama’ah, maka mereka berdua akan dicatat sebagai orang yang selalu berdzikir kepada Allah’.” (HR. Abu Daud dan Al-Hakim, hadits shahih)

 

“Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallaahu anhu, ‘Bahwasanya seorang laki-laki masuk masjid sedangkan Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam sudah shalat bersama para sahabatnya, maka beliau pun bersabda, ‘Siapa yang mau bersedekah untuk orang ini, dan menemaninya shalat.’ Lalu berdirilah salah seorang dari mereka kemudian dia shalat bersamanya’.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, hadits shahih)

 

“Dari Ubay bin Ka’ab radhiallaahu anhu, ia berkata, ‘Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda, Shalat seseorang bersama orang lain (berdua) lebih besar pahalanya dan lebih mensucikan daripada shalat sendirian, dan shalat seseorang ditemani oleh dua orang lain (bertiga) lebih besar pahalanya dan lebih menyucikan daripada shalat dengan ditemani satu orang (berdua), dan semakin banyak (jumlah jama’ah) semakin disukai oleh Allah Ta’ala’.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan An-Nasai, hadits hasan)

Hukum Masbuq

       Masbug adalah makmum yang ketinggalan. Ia tidak sempat membaca fatihah bersama imam pada rakaat pertama, maka jika ia takbiratul ihram sebelum imam ruku’ harus membaca fatihah. apabila bacaan fatihahnya belum habis dan imam telah ruku’ maka harus mengikuti ruku’ pula, dengan demikian belum terhitung satu rakaat. Akan tetapi jika masbuq memdapati imam belum ruku’ (dan bisa menyelesaikan fatihahnya) atau sedang ruku’ dan dapat ruku’ yang sempurna bersama imam, maka dihitung satu rakaat. dengan begitu tinggal menambah kekurangan rakaatnya.

       Sabda Rasulullah saw “Apabila seseorang diantara kamu datang (untuk) shalat sewaktu kami sujud, hendaklah ikut sujud dan janganlah kamu hitung itu satu rakat. Barang siapa yang mendapati ruku’ bersama imam, maka ia telah mendapat satu rakaat.” (H.R. Abu Daud). Perihal fatihahnya, menurut pendapat jumhur ulama ditanggung oleh imam. Sebagian ulama lainnya berpendapat, masbuq tidak mendapat satu rakaat apabila tidak membaca fatihah sebelum imam ruku’. Pendapat kedua ini berdasarkan hadis “Bagaimana keadaan imam ketika kamu dapati, hendaklah kamu ikut, dan apa yang ketinggalan olehmu hendaklah kamu sempurnakan.” (H.R. Muslim)

Shalat Jama’

       Shalat Jama’ adalah menggabungkan dua shalat wajib kedalam satu shalat. Contohnya shalat dzuhur gabung ke shalat Ashar atau shalat Isya’ digabung ke Maghrib.

Syarat-syarat melakukan shalat jama’ :

  1. Pergi jauh dan bukanuntuk maksiat.
  2. Kalau berjamaah tidak makmum kepada orang yang bukan musafir

Dalam pelaksanaannya, shalat jama’ dibagi menjadi dua, yaitu :

  1. Jama’ taqdim adalah penggabungan dua shalat dikerjakan pada waktu shalat terdahulu. Misalnya, penggabungan shalat Isya’ dengan shalat Magrib dikerjakan pada waktu Magrib. Niatnya :

Ushalli fardlal maghribi tsalatsa rakaatain majmuu’an ilahil isyaai adaa-an lillahi ta’aalaa

Artinya : “aku niat shalat magrib tiga rakaat jama’ sama Isya’ wajib karena Allah

Syarat-syarat jama’ taqdim :

  1. dikerjakan dengan tertib, yakni shalat yang pertama didahulukan. misalnya magrib dengan isya’, maka yang dikerjakan lebih dulu adalah shalat magribnya.
  2. Niat jama’ dikerjakan pada shalat pertama.
  3. berturut-turut antara keduanya. Tidak boleh diselingi shalat sunnah atau perbuatan lainnya.
  4. Jama’ Takhir, adalah kebalikan dari jama’ taqdim. Contohnya, penggabungan antara shalat magrib dengan shalat isya dikerjakan pada waktu isya’.

Syarat-syarat jama’ takhir :

  1. Niat jama’ takhir dilakukan pada shalat yang pertama.
  2. Waktu masih dalam perjalanan, ketika datang waktu shalat yang kedua. membaca niat shalat yang pertama. contohnya niat shalat magrib jama’ takhir :

Ushalli fardlal maghribi tsalatsa rakaatain majmuu’an ilal isyaa-i adaa-an lillahi ta’aalaa

Artinya : “aku niat shalat magrib tiga rakaat jama’ sama Isya’ wajib karena Allah

Shalat-shalat Wajib

 Shalat wajib yang harus didirikan oleh umat Islam dibagi 2 (dua) , Yaitu :

  1. Fardu ‘Ain, Yaitu shalat wajib yang harus dilakukan oleh setiap umat islam.
    1. Shalat Shubuh
    2. Shalat Dzuhur
    3. Shalat ‘Ashar
    4. Shalat Maghrib
    5. Shalat Isya’ dan
    6. Shalat Jum’at (hanya diwajibkan untuk kaum laki-laki)
  2.  Fardu Kifayah, yaitu shalat wajib yang apabila sudah dikerjakan oleh sebagian umat Islam, maka umat islam yang lainnya terbebas dari kewajiban tersebut.
    1. Shalat Jenazah
    2. Shalat Ghaib

 Berikut ini niat, Jumlah rakaat dan waktu pelaksanaan kedelapan shalat wajib ‘Ain dan Kifayah tersebut.

  1.  Shalat Shubuh.

 2 Rakaat, waktunya antara menjelang terbit fajar sebelum terbit matahari. Niatnya sebagai berikut :

 

Ushalli Fardladh shub-hi rak’ataini mustaqbilal qiblati adaa-an (makmuman/imamam) lillahi ta’ala.” lalu takbiratur ihram : Allahu Akbar.

Artinya : “Aku sengaja shalat fardu subuh dua rakaat menghadap kiblat (makmum/imam) karena Allah

  1. Shalat Dzuhur.

 4 rakaat, waktunya antara mulai matahari tergelincir dengan posisi tepat diatas kepala sampai dua jam sesudahnya. Niatnya :

 

Ushalli Fardlal dzuhri arba’a rak’ataini mustaqbilal qiblati adaa-an (makmuman/imamam) lillahi ta’ala.” lalu takbiratur ihram : Allahu Akbar.

Artinya : “Aku sengaja shalat fardu Dzuhur empat rakaat menghadap kiblat (makmum/imam) karena Allah

  1. Shalat Ashar .

 4 rakaat, waktunya satu jam sejak berakhirnya waktu shalat dzuhur sampai menjelang matahari terbenam. Niatnya :

 

Ushalli Fardlal ‘ashri arba’a rak’ataini mustaqbilal qiblati adaa-an (makmuman/imamam) lillahi ta’ala.” lalu takbiratur ihram : Allahu Akbar.

Artinya : “Aku sengaja shalat fardu Ashar empat rakaat menghadap kiblat (makmum/imam) karena Allah

  1. Shalat Maghrib.

 3 rakaat, waktunya saat terbenamnya matahari sampai hilangnya tanda senja, yakni merah langit disebelah barat. Niatnya :

 

Ushalli Fardlal Maghribi tsalatsa rak’ataini mustaqbilal qiblati adaa-an (makmuman/imamam) lillahi ta’ala.” lalu takbiratur ihram : Allahu Akbar.

Artinya : “Aku sengaja shalat fardu Maghrib tiga rakaat menghadap kiblat (makmum/imam) karena Allah

  1. Shalat Isya’

 4 rakaat, waktunya antara satu jam habis waktu maghrib sampai satu jam menjelang waktu subuh. Niatnya :

 

Ushalli Fardlal Isyaa-i arba’a rak’ataini mustaqbilal qiblati adaa-an (makmuman/imamam) lillahi ta’ala.” lalu takbiratur ihram : Allahu Akbar.

Artinya : “Aku sengaja shalat fardu Isya’ empat rakaat menghadap kiblat (makmum/imam) karena Allah

  1. Shalat Jum’at.

 2 rakaat, dilaksanakan setiap hari Jum’at waktunya sama dengan waktu Dzuhur. Niatnya :

 

Ushalli Fardlal jum’ati rak’ataini mustaqbilal qiblati adaa-an (makmuman/imamam) lillahi ta’ala.” lalu takbiratur ihram : Allahu Akbar.

Artinya : “Aku sengaja shalat fardu Jum’at dua  rakaat menghadap kiblat (makmum/imam) karena Allah

  1. Shalat Janazah (Fardu Kifayah).

Syarat-syaratnya

  1. Jenazah sudah dimandikan dan dikafani
  2. Letak jenazah sebelah kiblat didepan yang menshalati.
  3. Suci dari hadas dan najis baik badan, pakaian dan tempat.

Rukun dan cara mengerjakannya.

Shalat jenazah tanpa ruku dan sujud juga tanpa iqamah.

  1.  Niat

Lafal niat untuk jenazah laki-laki sebagai berikut :

 

Ushalli ‘alaa haadzal mayyiti arba’a takbiraatin fardlal kifaayati (ma’mumam/imamam) lillahi ta’alaa.

Artinya : “aku niat shalat atas mayat ini empat takbir fardu kifayah (makmum/imam) karena Allah

Lafal niat untuk jenazah perempuan sebagai berikut :

 

Ushalli ‘alaa haadzihil mayyiti arba’a takbiraatin fardlal kifaayati (ma’mumam/imamam) lillahi ta’alaa.

Artinya : “aku niat shalat atas mayat ini empat takbir fardu kifayah (makmum/imam) karena Allah

 

  1. Setelah niat, dilanjutkan takbiratul ihram : Allahu Akbar , setelah itu membaca surat Fatihah, kemudian disambung dengan takbiratul ihram kedua : Allahu Akbar.
  2. Setelah takbir kedua membaca shalawat atas nabi Muhammad saw. Minimal:

Allahumma Shalli ‘alaa Muhammadin” artinya : “Yaa Allah berilah salawat atas nabi Muhammad

  1. Kemudian takbir ketiga disambung dengan do’a minimal sebagai berikut :

Allahhummaghfir lahu warhamhu wa’aafihi wa’fu anhu

Artinya : “Yaa Allah ampunilah dia, berilah rahmat, kesejahteraan dan ma’afkanlah dia

 Apabila jenazah yang dishalati itu perempuan, maka bacaan Lahuu diganti dengan Lahaa. Jika mayatnya banyak maka bacaan Lahuu diganti dengan  Lahum.

  1. Setelah itu takbir ke empat, disambung dengan do’a minimal :

Allahumma la tahrimnaa ajrahu walaa taftinna da’dahu waghfirlanaa walahu.

 Artinya : “Yaa Allah, janganlah kiranya pahalanya tidak sampai kepadanya atau janganlah Engkau meluputkan kami akan pahalanya, dan janganlah Engkau memberi kami fitnah sepeninggalnya, serta ampunilah kami dan dia.

  1. Salam
  2. Shalat Ghaib (Fardu Kifayah).

Yaitu shalat jenazah tetapi tidak dihadapan jenazah (jenazahnya berada ditempat lain atau sudah dimakamkan). Niatnya :

Ushalli ‘alaa mayyiti (Fulanin) al ghaaibi arba’a takbiraatin fardlal kifaayati lillahi ta’alaa

Artinya : “aku niat shalat gaib atas mayat (fulanin) empat takbir fardu kifayah (makmum/imam) karena Allah“”

Fulanin  diganti dengan nama mayat yang dishalati.

Syarat, rukun dan tatacara shalat ghaib sama dengan shalat jenazah.

Shalat-shalat Shunnah.

        Selain shalat wajib, juga ada shalat sunnah. Macamnya ada lima belas shalat, yaitu :

 1.    Shalat Wudhu, Yaitu shalat sunnah dua rakaat yang bisa dikerjakan setiap selesai wudhu, niatnya :

 ?Ushalli sunnatal wudlu-I rak?ataini lillahi Ta?aalaa? artinya : ?aku niat shalat sunnah wudhu dua rakaat karena Allah?

2.     Shalat Tahiyatul Masjid, yaitu shalat sunnah dua rakaat yang dikerjakan ketika memasuki masjid, sebelum duduk untuk menghormati masjid. Rasulullah bersabda ?Apabila seseorang diantara kamu masuk masjid, maka janganlah hendak duduk sebelum shalat dua rakaat lebih dahulu? (H.R. Bukhari dan Muslim). Niatnya :

 

?Ushalli sunnatal Tahiyatul Masjidi  rak?ataini lillahi Ta?aalaa? Artinya : ?aku niat shalat sunnah tahiyatul masjid dua rakaat karena Allah?

3.      Shalat Dhuha. Adalah shalat sunnah yang dikerjakan ketika matahari baru naik. Jumlah rakaatnya minimal 2 maksimal 12. Dari Anas berkata Rasulullah ?Barang siapa shalat Dhuha 12 rakaat, Allah akan membuatkan untuknya istana disurga? (H.R. Tarmiji dan Abu Majah). Niatnya :

 

?Ushalli sunnatal Dhuha rak?ataini lillahi Ta?aalaa? Artinya : ?aku niat shalat sunnah dhuha dua rakaat karena Allah?

4.      Shalat Rawatib. Adalah shalat sunnah yang dikerjakan mengiringi shalat fardhu. Niatnya :

  1. Qabliyah, adalah shalat sunnah rawatib yang dikerjakan sebelum shalat wajib. Waktunya : 2 rakaat sebelum shalat subuh, 2 rakaat sebelum shalat Dzuhur, 2 atau 4 rakaat sebelum shalat Ashar, dan 2 rakaat sebelum shalat Isya?. Niatnya:

 

?Ushalli sunnatadh Dzuhri*  rak?ataini Qibliyyatan lillahi Ta?aalaa? Artinya : ?aku niat shalat sunnah sebelum dzuhur dua rakaat karena Allah?

* bisa diganti dengan shalat wajib yang akan dikerjakan.

  1. Ba?diyyah, adalah shalat sunnah rawatib yang dikerjakan setelah shalat fardhu. Waktunya : 2 atau 4 rakaat sesudah shalat Dzuhur, 2 rakaat sesudah shalat Magrib dan 2 rakaat sesudah shalat Isya. Niatnya :

 

?Ushalli sunnatadh Dzuhri*  rak?ataini Ba?diyyatan lillahi Ta?aalaa? Artinya : ?aku niat shalat sunnah sesudah  dzuhur dua rakaat karena Allah?

* bisa diganti dengan shalat wajib yang akan dikerjakan.

5.     Shalat Tahajud, adalah shalat sunnah pada waktu malam. Sebaiknya lewat tengah malam. Dan setelah tidur. Minimal 2 rakaat maksimal sebatas kemampuan kita. Keutamaan shalat ini, diterangkan dalam Al-Qur?an. ?Dan pada sebagian malam hari bershalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ketempat yang terpuji? (Q.S. Al Isra : 79 ). Niatnya :

 

?Ushalli sunnatal tahajjudi  rak?ataini lillahi Ta?aalaa? Artinya : ?aku niat shalat sunnah tahajjud dua rakaat karena Allah?

6.     Shalat Istikharah, adalah shalat sunnah dua rakaat untuk meminta petunjuk yang baik, apabila kita menghadapi dua pilihan, atau ragu dalam mengambil keputusan. Sebaiknya dikerjakan pada 2/3 malam terakhir. Niatnya :

 

?Ushalli sunnatal Istikharah  rak?ataini lillahi Ta?aalaa? Artinya : ?aku niat shalat sunnah Istikharah dua rakaat karena Allah?

7.     Shalat Hajat, adala shalat sunnah dua rakaat untuk memohon agar hajat kita dikabulkan atau diperkenankan oleh Allah SWT. Minimal 2 rakaat maksimal 12 rakaat dengan salam setiap 2 rakaat. Niatnya :

 

?Ushalli sunnatal Haajati  rak?ataini lillahi Ta?aalaa? Artinya : ?aku niat shalat sunnah hajat dua rakaat karena Allah?

8.     Shalat Mutlaq, adalah shalat sunnah tanpa sebab dan tidak ditentukan waktunya, juga tidak dibatasi jumlah rakaatnya. ?Shalat itu suatu perkara yang baik, banyak atau sedikit? (Al Hadis). Niatnya :

 

?Ushalli sunnatal rak?ataini lillahi Ta?aalaa? Artinya : ?aku niat shalat sunnah dua rakaat karena Allah?

9.     Shalat Taubat, adalah shalat sunnah yang dilakukan setelah merasa berbuat dosa kepada Allah SWT, agar mendapat ampunan-Nya. Niatnya:

 

?Ushalli sunnatal Taubati  rak?ataini lillahi Ta?aalaa? Artinya : ?aku niat shalat sunnah taubat  dua rakaat karena Allah?

10.   Shalat Tasbih, adalah shalat sunnah yang dianjurkan dikerjakan setiap malam, jika tidak bisa seminggu sekali, atau paling tidak seumur hidup sekali. Shalat ini sebanyak empat rakaat, dengan ketentuan jika dikerjakan pada siang hari cukup dengan satu salam, Jika dikerjakan pada malam hari dengan dua salam. Cara mengerjakannya

  1. Niat :

 

?Ushalli sunnatan tasbihi raka?ataini lilllahi ta?aalaa? artinya ?aku niat shalat sunnah tasbih dua rakaat karena Allah?

  1. Usai membaca surat Al Fatehah membaca tasbih 15 kali.
  2. Saat ruku?, usai membaca do?a ruku membaca tasbih 10 kali
  3. Saat ?itidal, usai membaca do?a ?itidal membaca tasbih 10 kali
  4. Saat sujud, usai membaca doa sujud membaca tasbih 10 kali
  5. Usai membaa do?a duduk diantara dua sujud membaca tasbi 10 kali.
  6. Usai membaca doa sujud kedua membaca tasbih 10 kali.

       Jumlah keseluruhan tasbih yang dibaca pada setiap rakaatnya sebanyak 75 kali. Lafadz bacaan tasbih yang dimaksud adalah sebagai berikut :

 

?Subhanallah wal hamdu lillahi walaa ilaaha illallahu wallahu akbar? artinya : ?Maha suci Allah yang Maha Esa. Segala puji bagi Akkah, Dzat yang Maha Agung?.

11.  Shalat Tarawih,  adalah shalat sunnah sesudah shalat Isya? pada bulan Ramadhan. Menegenai bilangan rakaatnya disebutkan dalam hadis. ?Yang dikerjakan oleh Rasulullah saw, baik pada bulan ramadhan atau lainnya tidak lebih dari sebelas rakaat? (H.R. Bukhari). Dari Jabir ?Sesungguhnya Nabi saw telah shallat bersama-sama mereka delapan rakaat, kemudian beliau shalat witir.? (H.R. Ibnu Hiban)

 

       Pada masa khalifah Umar bin Khathtab, shalat tarawih dikerjakan sebanyak 20 rakaat dan hal ini tidak dibantah oleh para sahabat terkenal dan terkemuka. Kemudian pada zaman Umar bin Abdul Aziz bilangannya dijadikan 36 rakaat. Dengan demikian bilangan rakaatnya tidak ditetapkan secara pasti dalam syara?, jadi tergantung pada kemampuan kita masing-masing, asal tidak kurang dari 8 rakaat. Niat shalat tarawih :

 

?Ushalli sunnatan Taraawiihi rak?ataini (Imamam/makmuman) lillahi ta?aallaa? artinya : ?Aku niat shalat sunat tarawih dua rakaat (imamam/makmum) karena Allah?

12.   Shalat Witir, adalah shalat sunnat mu?akad (dianjurkan) yang biasanya dirangkaikan dengan shalat tarawih, Bilangan shalat witir 1, 3, 5, 7 sampai 11 rakaat. Dari Abu Aiyub, berkata Rasulullah ?Witir itu hak, maka siapa yang suka mengerjakan lima, kerjakanlah. Siapa yang suka mengerjakan tiga, kerjakanlah. Dan siapa yang suka satu maka kerjakanlah?(H.R. Abu Daud dan Nasai). Dari Aisyah : ?Adalah nabi saw. Shalat sebelas rakaat diantara shalat isya? dan terbit fajar. Beliau memberi salam setiap dua rakaatdan yang penghabisan satu rakaat? (H.R. Bukhari dan Muslim)

 

?Ushalli sunnatal witri rak?atan lillahi ta?aalaa?artinya : ?Aku niat shalat sunnat witir dua rakaat karena Allah

13.  Shalat Hari Raya, adalah shalat Idul Fitri pada 1 Syawal dan Idul Adha pada 10 Dzulhijah. Hukumnya sunat Mu?akad (dianjurkan).?Sesungguhnya kami telah memberi engkau (yaa Muhammad) akan kebajikan yang banyak, sebab itu shalatlah engkau dan berqurbanlah karena Tuhanmu ? pada Idul Adha – ?(Q.S. Al Kautsar.1-2)Dari Ibnu Umar ?Rasulullah, Abu Bakar, Umar pernah melakukan shalat pada dua hari raya sebelum berkhutbah.?(H.R. Jama?ah). Niat Shalat Idul Fitri :

?Ushalli sunnatal li?iidil fitri rak?ataini (imamam/makmumam) lillahita?aalaa? artinya : ?Aku niat shalat idul fitri dua rakaat (imam/makmum) karena Allah?

Niat Shalat Idul Adha :

 

?Ushalli sunnatal li?iidil Adha rak?ataini (imamam/makmumam) lillahita?aalaa? artinya : ?Aku niat shalat idul adha dua rakaat (imam/makmum) karena Allah?

       Waktu shalat hari raya adalah setelah terbit matahari sampai condongnya matahari. Syarat, rukun dan sunnatnya sama seperti shalat yang lainnya. Hanya ditambah beberapa sunnat sebagai berikut :

  1. Berjamaah
  2. Takbir tujuh kali pada rakaat pertama, dan lima kali pada rakat kedua
  3. Mengangkat tangan setinggi bahu pada setiap takbir.
  4. Setelah takbir yang kedua sampai takbir yang terakhir membaca tasbih.
  5. Membaca surat Qaf dirakaat pertama dan surat Al Qomar di rakaat kedua. Atau surat A?la dirakat pertama dan surat Al Ghasiyah pada rakaat kedua.
  6. Imam menyaringkan bacaannya.
  7. Khutbah dua kali setelah shalat sebagaimana khutbah jum?at
  8. Pada khutbah Idul Fitri memaparkan tentang zakat fitrah dan pada Idul Adha tentang hukum ? hukum Qurban.
  9. Mandi, berhias, memakai pakaian sebaik-baiknya.
  10. Makan terlebih dahulu pada shalat Idul Fitri pada Shalat Idul Adha sebaliknya.

14.  Shalat Khusuf, adalah shalat sunat sewaktu terjadi gerhana bulan atau matahari. Minimal dua rakaat. Caranya mengerjakannya :

  1. Shalat dua rakaat dengan 4 kali ruku? yaitu pada rakaat pertama, setelah ruku? dan I?tidal membaca fatihah lagi kemudian ruku? dan I?tidal kembali setelah itu sujud sebagaimana biasa. Begitu pula pada rakaat kedua.
  2. Disunatkan membaca surat yang panjang, sedang membacanya pada waktu gerhana bulan harus nyaring sedangkan pada gerhana matahari sebaliknya.

Niat shalat gerhana bulan :

 

?Ushalli sunnatal khusuufi rak?ataini  lillahita?aalaa? artinya : ?Aku niat shalat gerhana bulan  dua rakaat  karena Allah?

15.   Shalat Istiqa?,adalah shalat sunat yang dikerjakan untuk memohon hujan kepada Allah SWT. Niatnya ?

 

?Ushalli sunnatal Istisqaa-I  rak?ataini (imamam/makmumam) lillahita?aalaa? artinya : ?Aku niat shalat istisqaa dua rakaat (imam/makmum) karena Allah?

Syarat-syarat mengerjakana Shalat Istisqa :

  1. Tiga hari sebelumnya agar ulama memerintahkan umatnya bertaobat dengan berpusa dan meninggalkan segala kedzaliman serta menganjurkan beramal shaleh. Sebab menumpuknya dosa itu mengakibatkan hilangnya rejeki dan datangnya murka Allah. ?Apabila kami hendak membinasakan suatu negeri, maka lebih dulu kami perbanyak orang-orang yang fasik, sebab kefasikannyalah mereka disiksa, lalu kami robohkan (hancurkan) negeri mereka sehancur-hancurnya?(Q.S. Al Isra? : 16).
  2. Pada hari keempat semua penduduk termasuk yang lemah dianjurkan pergi kelapangan dengan pakaian sederana dan tanpa wangi-wangian untuk shalat Istisqa?
  3. Usai shalat diadakan khutbah dua kali. Pada khutbah pertama hendaknya membaca istigfar 9 X dan pada khutbah kedua 7 X.

Pelaksanaan khutbah istisqa berbeda dengan khutbah lainnya, yaitu :

  1. Khatib disunatkan memakai selendang.
  2. Isi khutbah menganjurkan banyak beristigfar, dan berkeyakinan bahwa Allah SWT akan mengabulkan permintaan mereka.
  3. Saat berdo?a hendaknya mengangkat tangan setinggi-tingginya.
  4. Saat berdo?a pada khutbah kedua, khatib hendaknya menghadap kiblat membelakangi makmumnya

HIKMAH SHALAT

Shalat adalah tiang agama, penyembuh hati dan  mencegah dar perbuatan keji dan kemungkaran, menjauhkan nafsu yang selalu cenderung kepada kejelekan dan kejahatan. Setiap hari, siang dan malam seorang muslim menghadap Allah sedikitnya lima kali dengan penuh tawadlu, khusyu’  di depan kemuliaan rabbani. Shalat yang terdiri dari perkataan dan perbuatan tertentu berfungsi mencegah dan menghilangkan perbuatan munkar dan keji. Rasulullah Saw bersabda:

مثل صلوات الخمس كمثل النهرالعذب على باب أحدكم يغتسل منه كل يوم خمس مرات فمايبقى ذلك من الدنس

Artinya:

“Perumpamaan shalat lima waktu seperti suatu sungai jernih yang berada di depan pintu rumah salah satu di antara kalian. Dia mandi di situ lima kali setiap hari, maka tiada kotoran yang tinggal”

Di antara hikmah shalat adalah ketenangan hati dan tidak “berkeluh kesah” ketika ditimpa kesusahan, tidak kikir jika mendapat karunia berupa kelebihan harta.  Keluh kesah  menghilangkan rasa “kesabaran” yang merupakan sebab utama kebahagiaan. Orang yang sering keluh kesah mendakan orang yang tidak shalat atau kurang sempurna shalatnya. Berlaku kikir pada manusia adalah bahaya besar dan tidak percaya kepada Pencipta, Pemberi rizki yang diwakilkan kepada orang melalui kebaikan dan ihsan. Allah Swt. berfirman:

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا(19)إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا(20)وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا(21)إِلَّا الْمُصَلِّينَ(22)الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ(23)

Artinya:

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Dan apabila dia mendapat kebaikan ia amat kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya.” (QS. al Ma’ariij : 19 – 23).

 

Apabila kita memperhatikan hikmah membaca al Fatihah, yang dimulai dengan membaca Basmalah sebagai seruan untuk memohon pertolongan dengan nama Dzat Yang mewajibkan kewajiban shalat, memohon agar segala yang dilakukannya diridhai, mendekati rahmat-Nya dan menjauhi siksa-Nya. Setelah itu memuji Allah yang telah menunjukkannya untuk menunaikan kewajiban shalat. Dia-lah Allah Yang memelihara seluruh makhluk pada alam wujud, Yang memberi nikmat dengan bermacam-macam nikmat dan kemuliaan-Nya. Dia adalah Tuhan dunia dan akhirat, Raja pada hari pembalasan. Apabila demikian, maka kita tidak menyembah kecuali hanyalah kepada-Nya dan tidak pula menyekutukan-Nya. Kita selalu memohon pertolongan hanya kepada-Nya dalam segala hal, karena tiada daya dan kekuatan, tiada kebesaran kekuasaan melainkan di tangan-Nya.

Sebagaimana diketahui, petunjuk adalah merupakan salah satu nikmat-Nya. Orang yang sesat tidak akan bisa memperoleh petunjuk dari selain Allah Swt. Maka kita memohon kepada-Nya agar Dia memberi kita nikmat petunjuk kepada jalan yang lurus, karena jalan itu adalah jalan yang dengannya Allah memberi nikmat kepada orang yang tidak kena murka-Nya dan bukan orang-orang sesat. Kita juga memohon agar Dia mengabulkan doa kita.

Disebutkan di dalam kitab al Badai’, bahwa fardlu shalat ditetapkan dalam al Kitab, al Sunnah, Ijma’ dan pendapat akal. Di dalam al Kitab ada beberapa ayat yang menyebutkan tentang fardlu shalat :

   أقيمواالصلاة

Artinya : “Dirikanlah shalat”

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا(103)

Artinya :

Sesungguhnya shalat itu diwajibkan atas orang-orang mukmin pada waktu-waktu tertentu” (QS. an Nisa’: 103).

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى

Artinya:

”Peliharalah shalat-shalat dan shalat Wustha” (QS. al Baqarah: 238).

Ayat ini menunjukkan kewajiban menjalankan shalat-shalat fardlu dalam sehari semalam.

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ

Artinya:

“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan daripada malam” (QS. Hud: 114).

 

Ayat ini mencakup shalat lima waktu. Shalat Subuh dilakukan pada salah satu ujung siang hari, shalat Dluhur dan Ashar dilakukan pada ujung akhir siang hari. Siang hari dibagi dua, yaitu pagi dan sore. Pagi adalah awal siang hingga condongnya matahari dan setelah itu adalah sore hari. Hingga  kalau ada orang yang bersumpah untuk tidak makan waktu sore tapi makan sesudah condongnya matahari. Maka dia telah melanggar sumpah. Adapun yang masuk dalam kedua ujung siang ada tiga shalat, yaitu Subuh, Dluhur dan Ashar. Sedangkan yang termasuk dalam kata-kata (sebagian malam) adalah shalat Maghrib dan Isya’, karena keduanya dilakukan pada sebagian malam. (QS. al Isra’: 78).

Adapun yang dimaksud dengan matahari tergelincir sampai gelap malam adalah shalat Dluhur dan Ashar. Sedangkan “qur’an fajar” adalah shalat Subuh. Dengan ayat ini ditetapkan tiga buah shalat, sedangkan dua shalat yang lain ditetapkan oleh ayat lain. Tetapi ada yang mengatakan bahwa “Duluukus-syamsi” (دلوك الشمس) artinya tenggelam- nya matahari, sehingga shalat yang dimaksud adalah shalat Maghrib dan Isya’,   sedangkan shalat  Subuh masuk  dalam  kata-kata         “Wakur’anal-fajri” (وقرأن الفجر).

Untuk dalil shalat Dluhur dan Ashar ada pada ayat lain:

فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ(17)وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ(18)

Artinya:

“Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu Subuh dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Dluhur” (QS. Ar Rum: 17 – 18).

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas berkata: yang dimaksud dengan “Khiina-tamsuuna” (حين تمسون) adalah shalat Maghrib dan Isya. “Wakhiina-tusbikhuna” (وحين تصبحون) adalah sahalat Subuh dan “’Asyiyya” (عشيا) adalah shalat Ashar. Sedangkan “Khiina-tuthiruuna”       (حين تظهرون) adalah shalat Dluhur. “Tasbih” yang dimaksud adalah shalat, yakni dirikanlah shalat untuk Allah. Digunakannya istilah “Tasbih” karena “Tasbih” adalah di antara yang ladzim dilakukan pada waktu shalat yang artinya “Tanzih” (pensucian). Sejak dimulainya shalat hingga selesai adalah merupakan Tanzih-Rabb (mensucikan Tuhan), karena di dalam shalat itu ditunjukkan segala hajat manusia kepada-Nya, ditunjukkan kelemahan dan ketidakmampuannya, disebutkan di dalamnya keagungan, kemuliaan, ketinggian dan keluhuran Tuhan dari segala kebutuhan. Abu Mansur al Maturidi al Samarkandi mengatakan: “Mereka menggunakan ayat ini sebagai dalil bagi shalat fardlu lima waktu, meskipun pemahaman mereka seperti pemahaman orang-orang sekarang yang hanya memahami secara apa adanya, yaitu masih dalam arti yang sebenarnya.

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا وَمِنْ ءَانَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَى(130)

Artinya:

“Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit  matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang”. (QS.Thaha: 130).

 

Penafsiran “Wasabbikh” (وَسَبِّحْ) adalah shalat sebelum terbit matahari. Maksudnya ialah shalat Subuh. Namun sebagian ahli tafsir mengatakan waktu ketika terbenamnya, yaitu shalat Dluhur dan Ashar. “Min-aanaa’illaili” (وَمِنْ ءَانَاءِ اللَّيْلِ) artinya: shalat Maghrib dan Isya’. “Atraafannahari” (وَأَطْرَافَ النَّهَارِ) disebutkan kembali sebagai Ta’kit (penguat), seperti dalam firman Allah  yang artinya: “Peliharalah semua shalatmu dan (peliharalah) shalat wustha” (QS. al Baqarah: 238).

 

Disebutkan shalat wustha sebagai ta’kid (penguat) bahwa shalat itu masuk ke dalam shalat lima waktu.

 

Artinya :

“Bertasbihlah kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan pada waktu petang” (QS. an-Nur : 36).

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ(36)

Menurut Ijma’, para ulama sepakat wajibnya shalat-shalat fardlu tersebut adalah :

  1. Shalat-shalat  diwajibkan sebagai rasa syukur terhadap nikmat.
  2. Nikmat penciptaan, di mana manusia diciptakan dengan sebaik-baik ciptaan. Sebagaimana firman Allah :

وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ

Artinya : “Dan (Allah) membentuk kamu lalu membaguskan rupamu” (QS. al-Mukmin : 64).

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ(4)

Artinya : “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. (QS. at-Tin : 4).

 

Dengan demikian, tidak ada seorangpun yang menghayalkan ciptaan lebih mulia dari ciptaan-Nya

  1. Nikmat anggota tubuh (organ tubuh) dari cacat yang dari padanya orang bisa melakukan kepentingan. Allah memberinya secara cuma-cuma tanpa tuntutan apa-apa. Dia menyuruh untuk menggunakan nikmat tersebut guna mengabdi kepada Pemberi nikmat, bersyukur atas nikmat yang diberikan, karena sebenarnya syukur nikmat terletak pada pengabdian kepada pemberi nikmat.

Ibadah shalat melibatkan seluruh organ lahir seperti berdiri, ruku’, sujud, duduk, meletakkan tangan pada tempatnya dan menjaga mata. Melibatkan pula organ tubuh bathin, seperti niat dalam hati, perasaan takut, harapan, konsentrasi dengan mengagungkan dan memuliakan-Nya, agar setiap organ mensyukuri nikmat yang diberikan kepadanya.

  1. Nikmat persendian antara organ yang satu dengan organ yang lain sehingga bisa melakukan  gerakan-gerakan yang berbeda-beda seperti berdiri, duduk, ruku’ dan sujud, shalat melibatkan keadaan seperti ini.  Perintah menggunakan nikmat khusus ini dalam mengabdi kepada Pemberi nikmat adalah sebagai rasa bersyukur atas nikmat itu, karena syukur nikmat itu wajib secara syara’ dan akal.
  2. Shalat dan setiap ibadah adalah merupakan pengabdian hamba kepada Allah yang  wajib dilakukan. Azimah adalah menggunakan seluruh waktu untuk beribadah semampunya. Hanya saja pada waktu-waktu tertentu, Allah dengan keutamaan dan kemuliaan-Nya memperbolehkan hamba untuk meninggalkan pengabdian (ibadah) sebagai keringanan (rukhshah). Andaikata hukum rukhshah itu tidak di syariatkan, niscaya orang akan tetap melakukan azimah. Maka hukum azimah berfungsi memperkuat bahwa seorang hamba itu harus menampakkan ketinggian ibadah karena di dalamnya terdapat gerakan-gerakan seperti berdiri di sisi Allah, membungkukkan badan dan meletakkan wajah di atas tanah, duduk di atas dua kaki dan memuji kepada-Nya.
  3. Shalat mencegah pelakunya untuk berbuat maksiat. Karena ketika dia berdiri dengan khusyu’ dan hina, dia merasakan kebesaran Allah, takut meremehkan-Nya dalam ibadah, sebanyak lima kali sehari, maka perbuatan itu mencegahnya untuk berbuat maksiat. Allah Swt berfirman :

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ(114)

Artinya :

“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan dari pada malam. Sesungguhnya kebaikan itu  menghapus kejelekan. (QS. Hud : 14).

  1. Shalat menghapus dosa, kesalahan, kehinaan dan lalai. Seseorang hamba setiap harinya tidak bisa lepas dari dosa, kesalahan, kehinaan dan lalai dalam beribadah. Meskipun hamba merasa telah banyak mensyukuri nikmat, namun menurut Allah baru sedikit saja, karena nikmat Allah yang diberikan kepadanya sesungguhnya sangat banyak sehingga ia tidak sanggup mensyukuri sebagian saja apalagi mensyukuri seluruh nikmat. Karena mensyukuri nikmat itu wakil padahal hamba tidak mampu mensyukuri seluruh nikmat, maka diwajibkan shalat lima waktu guna membebaskan ketidak mampuannya tersebut.

 

Dalam kitab “Risalah al-Shalah” karya Ibnu Sina, shalat itu mnurut sifatnya dibagi dua. Bagian pertama bersifat lahir, berupa gerakan yang terdiri dari sunah dan rukun seperti qirsah, ruku’ dan sujud. Bagian kedua bersifat bathin, yaitu menyaksikan Allah dengan hati yang suci jernih serta dengan jiwa yang terlepas dari alam materi. Ibnu Sina berkata dalam kitab tersebut yang artinya:

“Bagian lahir yang berkaitan dengan gerak badan berupa sunah dan rukun tertentu adalah merupakan ketundukan, rindu, dan cinta. Badan  lahir meninggalkan alam duniawi dengan akal aktifnya menuju ke langit yang tinggi. Lisan manusia bermunajat kepada Allah Yang Maha Pencipta dan Pemelihara segala makhluk memohon agar memelihara akal aktifnya, melindungi aturan hamba yang khusyu’, menyembah-Nya agar dia tertap terpelihara dan terjaga selama hidupnya di dunia dari rong-rongan zaman.”

Inilah sebagian hikmah shalat yang mulia yang ditetapkan oleh Allah Yang Maha Bijaksana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s