Overview of The Financial Statement Audit

 

Tujuan utama dari audit laporan keuangan adalah untuk menyatakan pendapat apakah laporan keuangan klien telah menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum (GAAP).

Seorang auditor harus dapat membagi audit atas saldo akun utama dan golongan transaksi, dan kemudian audit atas asersi laporan keuangan untuk setiap saldo akun dan golongan transaksi. Selanjutnya membuat keputusan perencanaan yang penting tentang apa yang dianggap material bagi laporan keuangan, dan resiko audit atas salah saji. Auditor juga menjelaskan jasa bernilai tambah yang mungkin bermanfaat bagi manajemen dan dewan direksi dan mengkomunikasikan atas temuan-temuan audit, memberikan pernyataan pendapat atas laporan keuangan kepada dewan direksi, manajemen dan komite audit.

Mengembangkan harapan atas laporan keuangan (developing expectations of financial statements) melibatkan penggunaan pengetahuan tentang kinerja bisnis untuk mengembangkan harapan atas jumlah yang dilaporkan dalam laporan keuangan. Seorang auditor juga harus memahami masalah sistem informasi (information system issue) dalam industri dan bisnis, sebagai contoh pertukaran data electronic dalam suatu entitas dan bagaimana pengendalian intern yang dibutuhkan bagi perusahaan.

Gambaran proses audit dibagi menjadi enam tahap, yaitu:

  1. Menjalankan risiko asersi prosedur.  

Dalam tahap ini terbagi menjadi:

  1. Mengidentifikasi asersi laporan keuangan yang relevan.
    Hal yang harus dilakukan dalam audit adalah mengidentifikasi sejumlah tujuan audit yang spesifik dari asersi yang dibuat oleh manajemen atas setiap akun yang dilaporkan dalam laporan keuangan. Adapun terbagi menjadi lima kategori asersi laporan keuangan yaitu:
    • Keberadaan atau keterjadian (existence or occurrence)

Berkaitan dengan apakah aktiva atau kewajiban entitas memang ada pada tanggal tertentu dan apakah transaksi yang dicatat benar terjadi selama periode tersebut untuk menghindari kecenderungan lebih saji (overstatement).

  • • Kelengkapan (completeness)

Berkaitan dengan apakah semua transaksi dan akun yang harus disajikan dalam laporan keuangan telah tercantum secara lengkap untuk menghindari kecenderungan kurang saji (understatement).
• Hak dan kewajiban (rights and obligations)

Berkaitan dengan apakah aktiva telah menjadi hak entitas dan hutang memang telah menjadi kewajiban entitas pada suatu tanggal tertentu.

  • • Penilaian atau alokasi (valuation or allocation)

Berkaitan dengan komponen aktiva, kewajiban, pendapatan, dan beban telah dicantumkan dalam laporan keuangan dengan jumlah yang semestinya.

  • • Penyajian dan pengungkapan (presentation and disclosure)

Berkaitan dengan komponen tertentu dari laporan keuangan telah digolongkan, diuraikan dan diungkapkan dengan jelas. Pengumpulan bukti yang dilakukan oleh auditor digunakan untuk mengevaluasi asersi manajemen bagi setiap saldo akun yang material dalam kelompok transaksi.

  1. Memahami tentang bisnis dan lingkungan bisnis perusahaan.  
    Seorang auditor harus memahami :
  • •Lingkup industri, peraturan-peraturan lingkungan, dan faktor eksternal lainnya.
    •Sifat perusahaan, termasuk kebijakan-kebijakan akuntansi
  • •Tujuan, strategis, dan risiko bisnis terkait yang dinyatakan tidak material.
    •Manajemen dan hasil kinerja keuangan perusahaan
  1. Membuat keputusan mengenai materialitas.

Konsep materialitas dapat mempengaruhi proses audit, karena auditor membuat pertimbangan awal mengenai materialitas, sementara auditor membuat perikatan untuk membuat keputusan penting tentang lingkup audit. Meterialitas merupakan konsep penting yang akan menjadi pedoman auditor dalam menentukan lingkup pekerjaan audit. Untuk menemukan pengabaian ataupun salah saji yang bersama-sama berpotensi mencapai suatu jumlah yang akan mempengaruhi para pengguna laporan keuangan. Konsep materialitas ini juga menjadi pedoman auditor ketika mengevaluasi temuan audit.

  1. Menjalankan prosedur analisis.

Prosedur analisis adalah mengevaluasi informasi keuangan yang dijadikan bahan dari hubungan antara data keuangan dan data non keuangan. Selain itu, prosedur analisis digunakan untuk mengidentifikasi potensi dari kemungkinan salah saji laporan keuangan.

  1. Mengidentifikasi risiko atas kemungkinan terjadinya salah saji yang material, termasuk risiko kecurangan.

Untuk mengidentifikasi risiko atas kemungkinan terjadinya salah saji yang material digunakan komponen risiko audit yang terdiri dari risiko bawaan, risiko pengendalian, dan risiko deteksi. Selain itu, digunakan juga risiko kecurangan.

  1. Mengembangkan persiapan strategi audit.

Dalam tahap ini auditor membuat keputusan sementara tentang komponen atas model dari resiko audit dan pengembangan strategi awal berdasarkan dari bukti-bukti yang telah dikumpulkan.

  1. Memahami pengendalian internal.

Auditor memahami pengendalian internal untuk :

  • •Mengidentifikasi tipe-tipe dari potensi salah saji
  • •Memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi risiko atas salah saji yang materialitas
  • •Mendesain prosedur, ketepatan waktu, dan proses audit selanjutnya.
  1. Memahami risiko dari salah saji yang material.

Hasil kesimpulan dari tahap I, seorang auditor harus mengidentifikasi berbagai resiko salah saji yang material dan mempertimbangkan:

1. Faktor resiko potensial yang terkait dengan salah saji laporan keuangan, juga pada tingkat laporan keuangan atau tingkat assersi.

2. Menentukan besarnya resiko yang akan ditimbulkan dari salah saji yang material di dalam laporan keuangan.

3. Menentukan kemungkinan resiko yang ditimbulkan dari salah saji yang material.

4. Menentukan resiko signifikan bawaan yang timbul.

  1. Merespon resiko yang ditimbulkan.

Setelah auditor mengidentifikasi resiko yang mungkin timbul dari hasil salah saji yang material, auditor harus merespon dan mengatur dengan tepat, dan memberikan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan agar bebas dari salah saji. Respon atas resiko yang ditimbulkan termasuk keputusan tentang:

  • •Staffing dan Supervisi
  • • Pengujian audit. Ada 3 tipe prosedur audit:
    • oRisiko prosedur penilaian
    • oPengujian pengendalian
    • oPengujian substantif
  1. Melaksanakan prosedur audit lanjutan
    1. Resiko lanjutan prosedur penilaian.

Umumnya tanggungjawab auditor adalah menilai resiko dari salah saji yang material. Proses pengujian atas control yang dilakukan memerlukan penyertaan bukti dan diperlukan sistem pengendalian intern. 

  1. Pengujian pengendalian.

Bertujuan untuk melihat efektifitas dari operasional.

3. Pengujian substantif:

a. Prosedur analisis.

b. Pengujian terinci atas transaksi.

c. Pengujian terinci atas saldo.

V.   Mengevaluasi bukti audit

Tahapan lanjutan yang dilakukan oleh auditor setelah mengumpulkan barang bukti dan melaksanakan prosedur audit lanjutan adalah;

1. Mengevaluasi kembali risiko prosedur asersi

2. Menetapkan temuan-temuan yang signifikan

3. Kesimpulan formulir dan dokumen

VI.  Mengkomunikasikan temuan-temuan audit.

Elemen terakhir yang dilakukan oleh auditor adalah memberikan opini yang disampaikan kepada manajemen atau pengguna audit :

1. Opini auditor atas laporan keuangan melalui laporan audit.

2. Mengkomunikasikan hasil audit lainnya yang diminta oleh pihak manajemen dan board of directors.

3. Mengkomunikasikan hasil temuan dari proses audit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s