Akhlak dalam Islam

AKHLAK DAN ADAB

            Ilmu  akhlak merupakan bagian dari pembahasan dalam hikmah amali (filsafat amal), di samping ilmu keluarga dan kemasyarakatan (siyasah). Biasanya, ilmu akhlak dipahami sebagai ilmu yang mempersoalkan bagaimana seharusnya kita hidup. Atau, dalam rumusan lain, ilmu mengenai  bagaimana berperilaku yang baik.

            Pengertian ini berlaku sepanjang menyangkut insan bagaimana yang harus bertindak (beramal). Ini bertolak dari adanya pemahaman yang absolut dan general terhadap ilmu akhlak pada diri insan tersebut.

Adapun bila persoalannya adalah pada penggunaan ilmu tersebut sebagai pembimbing (petunjuk) untuk hidup (beramal) secara baik, maka pengertian ini tidak relevan. Artinya, ilmu akhlak harus meletakkan insan-pelaku sebagai cerminan ilmu, bukan sebaliknya.

            Lebih lanjut, dapat diperoleh sebuah pengertian bahwa perbuatan yang sesuai dengan kriteria akhlak meng-atas-i perbuatan biasa (alami). Unsur penyebabnya adalah, antara lain,  adanya ikhtiar si pelaku dalam mewujudkannya serta adanya kandungan nilai-nilai keagungan dan kemuliaan di dalamnya.

Tambahan lagi, pembahasan mengenai ilmu akhlak pada dasarnya memiliki dua aspek: bagaimana mewujudkannya dan bagaimana sebelumnya. Persoalan untuk mewujudkan perbuatan yang akhlaki erat kaitannya dengan ilmu akhlak itu sendiri. Sedangkan persoalan mengenai motivasi berakhlak dikembalikan pada kemauan dan kesanggupan insan itu sendiri, yang tentunya juga  harus didasari dengan ilmu tentang insan dan kehidupan.

 

Akhlak

            Rasulullah saww bersabda, “Berpeganglah kalian kepada akhlak yang mulia, sesungguhnya Tuhanku mengutus aku dengannya.”

            Ilmu akhlak merupakan sebuah spesialisasi, yang di dalamnya dibahas tentang potensi manusia yang berhubungan dengan kekuatan syahwaniyyah (syahwat), ghadhabiyyah (amarah), dan fikr (pikir). Ilmu tersebut juga membedakan antara sifat-sifat terpuji dan sifat-sifat rendah manusia, sehingga manusia dapat mencapai kesempurnaan nilai manusiawinya.

            Dalam hidupnya, manusia tidak dapat melepaskan diri dari pencariannya atas sesuatu, seperti makan, minum, dan beristirahat, yang semuanya didorong oleh kekuatan syahwani. Begitu juga, dari upaya untuk menghindar dari sesuatu, seperti sakit, kerja keras, dan sebagainya, yang didorong oleh kekuatan ghadhabi. Juga, dari kekuatan fikr seperti berhujah, yang didorong oleh kekuatan fikr dalam diri manusia.

            Ilmu akhlak mengajarkan kepada manusia agar menjaga keseimbangan semua potensi tersebut, agar mereka dapat mencapai kemuliaan dan terhindar dari segala bentuk kehinaan. Artinya, seluruh kekuatan tersebut harus selalu dijaga keseimbangannya, sehingga tidak melewati batas (ifrad) dan kurang dari yang semestinya (tafrid).

            Dalam pada itu, dengan menjaga keseimbangan ketiga kekuatan yang mereka miliki itu, manusia akan memiliki empat nilai kesempurnaan akhlak, yang menjadi dasar atau  ushul dari sifat-sifat terpuji lainnya.

Dengan menjaga keseimbangan kekuatan syahwaninya, manusia akan memiliki harga (kemuliaan) diri. Sementara perlakuan ifrad terhadapnya akan menumbuhkan keserakahan dan perlakuan tafrid terhadapnya akan menimbulkan rasa rendah diri.

            Dengan menjaga keseimbangan kekuatan ghadhabinya, manusia akan memiliki sifat pemberani. Sementara perlakuan ifrad  terhadapnya akan melahirkan kebrutalan dan perlakuan tafrid terhadapnya akan melahirkan sifat pengecut.

            Kekuatan berpikir, apabila dijaga keseimbangannya, akan melahirkan kebijaksanaan. Sementara perlakuan ifrad terhadapnya akan melahirkan kelicikan dan perlakuan tafrid terhadapnya akan melahirkan kebodohan.

            Sedangkan, apabila manusia menjaga keseimbangan tiga kekuatan tersebut, ia akan menjadi manusia yang memiliki sifat keadilan. Sehingga dapat dikatakan bahwa kemuliaan dapat dilihat  dari kepemlikan mereka atas empat  sifat kesempurnaan tersebut: harga diri, keberanian, kebijaksanaan, dan keadilan.

            Sementara itu, tingkatan akhlak dalam  perjalanan manusia, dapat dilihat dari:

  1. Tujuannya  untuk mencapai sifat-sifat mulia dan terpuji di tengah-tengah (di mata) manusia.
  2. Tujuannya  untuk mendapatkan  keberuntungan nilai manusiawi dan bebas dari segala kerendahan.
  3. Tujuannya yang semata-mata mencari keridhaan Allah Swt. Ia tidak lagi mencari sifat-sifat terpuji di mata manusia atau kesempurnaan nilai-nilai manusiawi belaka. Ini sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Quran, surat al-Baqarah ayat ke-165: Dan orang-orang yang beriman, mereka lebih besar lagi cintanya kepada Allah Swt.

 

Adab

            Ditinjau dari maknanya, adab adalah sikap dan bentuk perbuatan bajik, yang diharuskan oleh syariat maupun para bijak untuk melakukannya. Adab tidak berlaku bagi perbuatan di luar syariat dan tindakan terlarang lainnya. Karena itu, kezaliman, kebohongan, dan pengkhianatan tidak dapat dikatakan sebagai tindakan beradab.

Adab juga hanya berlaku bagi perbuatan yang didorong oleh ikhtiar bebas manusia. Sehingga,  sebagian manusia memiliki adab yang tidak dimiliki oleh sebagian manusia lainnya. Seperti makan, yang dalam Islam didahului dengan bismillah dan diakhiri dengan hamdalah. Atau, shalat yang memiliki cara duduk yang khas, dan sebagainya.

            Pabila diperhatikan, adab merupakan tindakan bajik yang berasal dari ikhtiar manusia. Karenanya, berdasarkan nalar, tidak akan ditemui ikhtilaf di dalamnya, meskipun pada kenyataannya manusia terdiri dari berbagai bangsa dan agama dengan gaya dan cara hidup berbeda. Sehingga suatu adab terkadang dipandang baik bagi  golongan tertentu dan dipandang buruk oleh golongan lainnya.

            Dari pembahasan di atas, dapat dipahami bahwa bajik merupakan muqawwim (penguat) dari  definisi adab, sedangkan perbedaannya terdapat pada tujuan-tujuan dari setiap kaum (golongan) tersebut. Ya, adab merupakan cermin yang menggambarkan akhlak yang ada pada suatu kaum.

Sementara itu, adab sendiri tidaklah sama dengan akhlak. Pabila akhlak merupakan potensi yang tertanam di dalam ruh, maka adab adalah sikap bajik yang menjadi pakaian bagi perbuatan manusia, yang muncul dari sifat-sifat mereka yang berbeda. Karena itu, adab adalah cerminan akhlak manusia, sementara akhlak adalah hakim bagi sebuah masyarakat.

            Apabila adab mengikuti tujuan khusus yang diinginkan dalam kehidupan manusia, maka adab Ilahi, yang diajarkan Allah Swt kepada para nabi dan rasul-Nya, adalah sikap yang baik dalam amal-amal diniyah, yang menggambarkan tujuan-tujuan dan maksud agama tersebut. Artinya, bahwa ibadah adalah sesuai dengan masing-masing agama yang berbeda, berdasarkan tingkat kesempurnaan tujuan dari masing-masing agama tersebut.

            Islam, dengan kelengkapannya, berhubungan dengan semua sisi kehidupan manusia. Oleh karena itu, semua sisi kehidupan manusia diatur oleh adab tertentu. Dan tujuan umum di dalam Islam adalah bertauhid kepada Allah Swt dalam setiap tingkatan keyakinan dan tindakan manusia.

            Dengan ibarat lain, hendaknya  manusia meyakini bahwa mereka memiliki Tuhan, yang dari-Nya-lah segala sesuatu berasal dan kepada-Nya-lah segala sesuatu kembali. Dia-lah yang memiliki Asma al-Husna.

Ya, manusia harus menjalani kehidupan ini dengan perbuatan yang menggambarkan penghambaan kepada Allah Swt. Dengan demikian, adab Ilahi adalah sikap bertauhid dalam perbuatan.

            Dalam hal ini, kita perlu merenungkan dalam-dalam, bait munajat Imam Ali Zainal Abidin berikut ini, “Tuhanku, janganlah Engkau ajari aku adab dengan siksa-siksa-Mu…”

PERSAMAAN DAN PERBEDAAAN AKHLAK, ETIKA DAN MORAL

Objeknya sama yaitu sama-sama membahas ttg baik buruknya tingkah laku manusia.

Perbedaannya antara lain:

Aspek

Etika

Moral/Susila

Budi Pekerti

Akhlak

Sumber dan

parameter

Akal

 

 

Adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat tertentu

Adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat tertentu

Al-Quran dan Sunnah

 

Cakupan

Hubungan sesama manusia dan makhluk lainnya

Hubungan sesama manusia dan makhluk lainnya

Hubungan sesama manusia dan makhluk lainnya

Hubungan dengan Allah dan sesama manusia serta makhluk lainnya

Ihsan Sebagai Poros Akhlak Mulia

Ihsan adalah landasan ketiga bangunan agama Islam, di samping keimanan dengan enam rukunnya dan keislaman dengan lima rukunnya. Ihsan berarti kebagusan atau kebaikan. Orang yang berbuat baik disebut muhsin (jamaknya muhsinun atau muhsinin), orang yang berbuat ihsan dan diridhai Allah Swt, yang beribadah seolah-olah melihat Allah (Al-Baqarah: 58, 112, 208; Al-An’am: 14; An-Nahl: 128; Al-Ankabut: 69; dan Luqman: 22).

Islam menilai kebaikan perbuatan seseorang berdasar atas keikhlasannya untuk mengharapkan ridha Allah, sehingga setiap amal (perbuatan)-nya bernilai ibadah. Oleh karena itu, atas pertanyaan “Apakah ihsan itu?”, maka Nabi Muhammad Saw menjawab:

الإحسان أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك

“Ihsan itu ialah bahwa kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, dan apabila kamu tidak dapat melihatnya maka kamu meyakini bahwa sesungguhnya Dia melihatmu” (Hadis Khamsah dari Umar bin Al-Khathab).

 

B. Amal-amal ihsan menurut Al Qur’an

  1. Berinfaq, menguasai kemarahan, memaafkan sesama manusia, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an surat Ali Imran: 134 berikut:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ(134)

Artinya: ”(Ihsan yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya untuk kebaikan dalam keadaan  lapang maupun di waktu sempit, orang-orang yang menahan amarahnya, dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan (muhsinin)”.

 

Dalam ayat ini Allah Swt menyebut beberapa sifat calon penghuni surga yaitu yang menafkahkan hartanya di waktu lapang maupun diwaktu sempit, dalam kondisi sakit maupun sehat, suka rela maupun terpaksa, bahkan dalam segala keadaan dan kesempatan, malam maupun siang, secara sembunyi maupun terang-terangan. Mereka juga memiliki sifat dapat menahan marah dan menyimpannya, tidak mudah terbawa emosi, dan suka memaafkan kesalahan orang (Tafsir Ibnu Katsir II:196).

       Menafkahkan harta ditetapkan sebagai perbuatan baik, dan berpahala besar sebab sangat bermanfaat, baik bagi orang lain (kesalehan sosial) maupun bagi yang berinfak (kesalehan individu). Dengan infak itu kegiatan dakwah bisa dipertahankan, fakir miskin bisa terbantu, dan kehidupan rumah tangga bisa ditegakkan. Keutamaan kesalehan sosial itu ditunjukkan oleh sabda Nabi Saw yang artinya:

“Orang yang mengusahakan bantuan bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang yang sholat malam. Ia tidak merasa lelah dan ia juga ibarat orang berpuasa yang tak pernah berbuka” (Hadis Bukhori).

Adapun dalil yang menunjukkan bahwa nafkah (suami) untuk istri (keluarga) juga diberi pahala adalah sabda Nabi Saw:

إنك لن تنفق نفقة تبتغي بها وجه الله إلا أجرت عليها حتى ما تجعل في فم امرأتك

”Apa yang kamu nafkahkan dengan tujuan keridlaan Allah akan diberi pahala walaupun hanya sesuap makanan ke mulut isterimu.” (Hadis Bukhori).

Bagi yang berinfak, selain mendapat pahala juga mendapat jaminan rejeki (nafkah) dari Allah, sebagaimana yang  disabdakan oleh Nabi Saw dalam hadis qudsi yang artinya:

”Allah Tabaraka wata’ala berfirman: “Hai anak Adam, infaklah (nafkahkanlah hartamu), niscaya Aku berikan nafkah kepadamu.” (Hadis Muslim)

Hadis ini memberikan petunjuk bahwa kalau seseorang selalu berinfak maka rezekinya juga dijamin oleh Allah Swt Jaminan ini, di samping lebih memantapkan kemauan untuk berinfak  di jalan kebaikan juga mendatangkan optimisme (harapan) dalam menempuh kehidupan, sebab yang menjadi keinginan utama bagi suatu keluarga adalah adanya kelangsungan rezeki.

          Orang yang mampu menahan amarah dipandang sebagai orang yang  kekuatannya melebihi kekuatan fisik seorang pegulat yang mampu mengalahkan lawan, sebagaimana disabdakan Nabi Saw:

ليس الشديد بالصرعةولكن الشديد الذي يملك نفسه عند الغضب

”Bukanlah orang  kuat itu adalah pegulat, tetapi orang kuat adalah yang dapat menahan diri di waktu marah”. (Hadis Bukhori Muslim)

Sekarang ini ada ahli ilmu jiwa (psikolog) yang menganjurkan agar marah itu tidak ditahan terus menerus sebab tidak baik bagi kesehatan jiwa. Mereka membandingkan hati orang dengan sebuah bendungan penampung air. Kalau sedang banjir, harus ada tempat untuk melimpahkan air, dan kalau tidak maka bendungan itu bisa rusak. Pendapat ini jelas bertentangan dengan sabda Nabi Saw yang artinya:

”Siapa yang menahan amarahnya padahal dia berkuasa melampiaskannya maka Allah Swt mengisi dadanya dengan iman dan rasa aman.” (Hadis Abu Dawud).

Hadis ini menyatakan bahwa menahan marah itu mendatangkan iman dan rasa aman bagi hati manusia, dan ini adalah suatu manfaat, bukannya madlarat. Perkataan manusia (ahli jiwa) tidak akan bisa menjadi kebenaran jika hanya berdasar persangkaan sedangkan sabda Nabi Saw adalah kebenaran sebab berasal dari Allah Swt yang mengetahui isi hati. Oleh karena itu maka sabda Nabi Saw wajib diterima dan diamalkan oleh mereka yang mengaku beriman. Perhatikan firman Allah di dalam Surat An Najm ayat 28:

وَإِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا(28)

 

”Sesungguhnya persangkaan itu tak berguna  sedikitpun bagi kebenaran”.

  1. Sabar, sebagaimana dinyatakan dalam surat Hud: 115 berikut:

وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ(115)

 

”Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan (muhsinin).”

Sabar adalah kebalikan dari sifat terburu-buru. Sabar biasanya dipahami sebagai sifat mampu mengendalikan diri (tabah) dalam menghadapi suatu kejadian atau musibah, dan juga ikhlas menerimanya. Contoh sederhana peristiwa (kejadian) yang memerlukan sifat sabar adalah ketika seseorang dalam keadaan menunggu. Keutamaan sabar dan nilainya ditunjukkan oleh sabda Nabi Saw:

الصبر نصف الإيمان واليقين الإيمان كله

”Sabar adalah separo iman, dan keyakinan adalah seluruh keimanan.” (Hadis At Thobroni dan Al Baihaqi).

Perhatikan juga sabda Nabi Saw yang artinya:

”Tidak ada suatu rezki yang Allah berikan kepada seorang hamba yang lebih luas baginya selain sabar.” (Hadis Al Hakim).

Di dalam Al Qur’an, orang yang sabar adalah orang yang apabila ditimpa  suatu musibah mereka itu mengucapkan: Inna lillaahi wainnaa ilaihi roji’un. (Surat Al Baqarah: 156).

Sabar, terkadang memang sulit untuk dihadirkan secara spontan. Seseorang mungkin baru menyadari bahwa dia kurang sabar apabila suatu peristiwa telah berlalu, diindikasikan dengan timbulnya penyesalan. Meskipun ukurannya tidak jelas, namun kesabaran itu  juga mempunyai tingkatan. Hal ini dijelaskan oleh sabda Nabi Saw:

الصبر عند أول الصدمة

”Sabar yang sesungguhnya yaitu sabar pada awal datangnya musibah” (Hadis Bukhori).

Hadis ini sekaligus menjelaskan ayat 156 Surat Al Baqarah bahwa yang disebut orang  sabar (shobirin) itu bukan hanya sekedar mengucapkan  kalimat istirja’ saja, namun dia harus meyakini bahwa musibah itu datang dari Allah, dan dia harus rela menerimanya.

 

  1. Jihad, sebagaimana dinyatakan dalam surat Al-Ankabut: 69 berikut:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ(69)

  ”Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami, dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat kebaikan (muhsinin).”

 

Menurut bahasa, jihad berarti bersungguh-sungguh dalam suatu hal. Jihad fi sabilillah berarti bersunguh-sungguh berjuang menegakkan syariat Islam, baik dengan harta benda maupun jiwa, sebagaimana sabda Nabi Saw yang artinya:

”Berjihadlah melawan musyrikin dengan harta, jiwa dan lidahmu” (Hadis  An Nasa’i).

Jihad dalam pengertian ini merupakan kewajiban kaum muslimin di mana saja dia berada dan dalam waktu apapun juga. Mereka yang meninggalkannya akan ditimpa kehinaan, sebagaimana sabda Nabi Saw yang artinya:

”Kalau kamu melakukan perdagangan dengan riba, hanya menjadi peternak-peternak dan senang hanya dengan bertani saja dan meninggalkan jihad maka Allah akan menimpakan kehinaan atasmu. Kamu tidak akan bisa mencabut kehinaan itu sampai kamu kembali kepada agamamu “ (Hadis Abu Dawud dan Ibnu Majah).

 Jihad juga berarti berperang mengangkat senjata melawan musuh Islam. Jihad menurut  pengertian ini merupakan amalan yang sangat besar pahalanya, dan orang yang mati dalam berjihad disebut  syahid akhirat. Begitu utamanya amalan ini sehingga mereka yang membantu berperang di jalan Allah tercatat juga sebagai orang yang berperang, sebagaimana sabda Nabi Saw yang artinya:

”Siapa yang memberi perlengkapan bagi mereka yang berperang di jalan Allah maka dia terhitung ikut berperang dan siapa yang ikut memenuhi kebutuhan (menyantuni) keluarga orang yang berperang maka dia terhitung ikut berperang di jalan Allah” (Hadis Bukhori).

 

  1. Taqwa, sebagaimana dinyatakan dalam surat Yusuf: 90 berikut:

إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ(90)

”Sesungguhnya barangsiapa bertakwa dan bersabar, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan (muhsinin)”.

Sebagian dari ciri orang bertaqwa adalah sebagaimana tersebut dalam surat Al Baqarah ayat 3:

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ(3)

”(Yaitu) orang-orang yang beriman kepada perkara-perkara gaib, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka”.

Yang termasuk gaib antara lain adalah malaikat, ruh, alam barzakh, syurga, dan neraka. Mendirikan shalat berarti memenuhi segala syarat maupun rukunnya serta menepati waktunya.

 

  1. Menjauhi dosa besar maupun perbuatan keji, sebagaimana dinyatakan dalam surat   An-Najm ayat 32:

الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ

”(Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas Ampunan-Nya.”

Termasuk dalam dosa-dosa besar adalah syirik, membunuh, mencuri, berzina, minum arak, serta durhaka kepada orang tua dan menyakiti hati mereka.

Setiap perbuatan baik yang merupakan perwujudan sikap jiwa dan perilaku yang sesuai dengan keimanan dan syari’at Islam, disebut ihsan. Dengan demikian maka sebutan akhlak dan ihsan adalah dua pranata yang berada pada suatu sistem yang lebih besar yang disebut akhlaqul karimah. Karena perkataan akhlak adalah pranata perilaku yang mencerminkan struktur dan pola perilaku manusia dalam segala aspek kehidupan, maka ihsan adalah pranata nilai yang menentukan atribut kualitatif dari akhlak.

Rasulullah Saw. bersabda:

إن الله كتب الإحسان على كل شيء

“Bahwasanya Allah telah mewajibkan kita berlaku ihsan terhadap segala sesuatu yang dikerjakan.”( Hadis Muslim).

Segala perbuatan yang kita lakukan hendaknya bernilai ihsan yang melengkapi ikhlas dan kebagusan serta kesempurnaan pekerjaan itu (Ash-Shiddieqy, 1977: 642). Sesuai dengan penjelasan di atas, maka sumber nilai dan norma dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Nilai yang Ilahi (transendental), yaitu Al-Qur’an dan Al-Sunnah
  2. Nilai yang duniawi (mondial), yaitu ra’yu (pemikiran), adat istiadat dan kenyataan alam.

Bagi umat Islam, sumber nilai yang tidak berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah hanya digunakan sepanjang dapat menunjang sistem nilai yang bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah serta tidak bertentangan dengan keduanya. Hal ini telah dinyatakan dalam surat Al-An’am 153:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

”Dan bahwa yang Kami perintahkan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya”.

 

 

C. Akhlak muslim sebagai makhluk pribadi

a. Menjaga kebersihan dan kesucian

Kebersihan adalah sebagian dari iman sehingga orang yang menyatakan beriman kepada Allah harus menyucikan jiwanya dari pikiran-pikiran jahat untuk (bisa) menerima kenikmatan Allah. Tahap paling mendasar menuju penyucian jiwa seseorang adalah penyucian  badan. Ketidaksucian badan seseorang dapat memberikan pengaruh yang tidak sehat terhadap fisik, dan mengganggu kesehatan mentalnya. Orang muslim tidak boleh melakukan shalat kecuali kalau mereka dalam keadaan suci. Ketentuan ini telah  dijelaskan oleh sabda Nabi Muhammad Saw yang artinya:

“Allah tidak akan menerima sholat tanpa bersuci, dan tidak pula (menerima) sedekah dari hasil penggelapan (korupsi).”(Hadits Jama’ah kecuali Bukhari).

Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertaubat (bersih rohani) dan orang yang bersuci (bersih jasmani), yaitu menyucikan rohaninya dan memperbaiki kehidupan sehari-harinya baik secara pribadi maupun kolektif. Contoh  pentingnya menjaga kebersihan jasmani ini adalah sabda Nabi Muhammad Saw yang artinya:

” Seandainya tidak memberatkan umatku niscaya saya perintahkan agar menggosok gigi setiap akan shalat”. (Hadis Malik, Syafi’i, Baihaqi, dan Hakim)

 

b. Giat bekerja

Sejarah membuktikan bahwa bangsa yang mampu mengubah dunia serta memberikan pengaruh dan kontribusi pada perkembangan dunia adalah bangsa yang memiliki budaya giat bekerja dan pekerja keras (hard worker). Budaya ini diilhami oleh nilai prestatif yang diyakininya sebagai energi yang mampu menghantarkan ke jenjang  peradaban manusia yang dapat dibanggakan. (Toto Tasmara,1995: 112).

Ciri yang paling esensial dalam etos kerja seorang muslim adalah senantiasa mengupayakan, memupuk dan mengembangkan kekuatan dalam segala aspeknya. Dengan kekuatan itulah cita-cita serta harga dirinya dapat diraih dan dapat dipertahankan. Iman dan kekuatan adalah dua kata yang berjodoh secara serasi dan mengukir kalbu setiap pribadi muslim. Etos kerja yang dianut seorang muslim harus didasarkan pada keyakinan bahwa hanya dengan kemauan dan kerja keras maka akan terhimpun suatu kekuatan. Hanya dengan kekuatan dan motivasi yang membara maka seorang akan mempunyai nilai dan menempatkan harga dirinya.

 

c. Berdo’a sebelum dan sesudah mengerjakan sesuatu

Do’a adalah permohonan manusia  kepada Dzat Yang Maha Sempurna, Maha Kuasa dan Menerima do’a, yaitu Allah yang tidak hajat terhadap sesuatu (Allahu ghaniyyun wa antum al-fuqara’). Do’a adalah inti ibadah (mukhkhu al-ibadah), karena ibadah itu milik Allah (Yunus (10): 106).  Oleh karena itu  setiap perbuatan (pekerjaan) seorang muslim sudah seharusnya dimulai dengan berdo’a dan sesudah bekerja diakhiri dengan ucapan hamdalah, sebagai salah satu ungkapan syukur atas karunia dan pertolongan Allah.

Penyerahan diri secara total kepada Allah akan menaikkan derajat manusia hingga ke tingkat khalifah (wakil Allah di bumi) yang dengan ketinggian derajat tersebut ia dilengkapi dengan nalar, kebebasan dan tanggung jawab. Tanggung jawab untuk meniti syariat, menurut Al-Qur’an (33: 72) adalah pelaksanaan amanah,  yaitu kepercayaan (dari Allah) kepada manusia  ketika langit, bumi dan gunung  tidak  mempunyai kesanggupan untuk menanggung amanah tersebut.

 

  1. d.      Mengembalikan semua persoalan kepada Allah

     Setiap orang pasti menghadapi persoalan hidup, baik yang terkait dengan pribadinya ataupun dengan orang lain, dan lingkungan (alam) di sekitarnya. Tidak setiap orang dapat menyelesaikan persoalan hidupnya dengan baik, sehingga memerlukan bantuan orang lain. Bantuan orang lain, tidak menjamin terselesaikannya persoalan yang dihadapinya, maka ia pun memerlukan Allah sebagai penolong (Allahu al-musta’an). Bagi seorang muslim, menyerahkan semua persoalan dan urusan kepada Allah adalah suatu keharusan, setelah berikhtiar dan bekerja sebaik-baiknya.

 

e.Merasa selalu diawasi Allah

Setiap muslim berkeyakinan bahwa Allah selalu mengawasi perbuatannya, baik dilakukan secara sembunyi-sembunyi, maupun terang-terangan. Keyakinan tersebut dapat membimbing si muslim agar selalu berjalan lurus dan tidak menyimpang dari jalan yang telah digariskan oleh Allah Swt Manusia seharusnya memiliki kesadaran bahwa segala apa yang dilihatnya berada dalam jangkauan pengawasan Allah. Apabila belum muncul kesadaran demikian, maka hendaknya orang tersebut meyakini bahwa segala yang dilakukan pasti dan selalu dilihat oleh-Nya. Keyakinan ini merupakan dasar bagi ibadah yang sejati dan menjadi suatu pertanda bahwa manusia telah mengidentifikasi kehendak pribadinya untuk disesuaikan  dengan kehendak Ilahi. Akhirnya orang tersebut akan selalu mempertimbangkan, apakah yang disukainya itu selalu sejalan dengan yang disukai Allah, dan untuk selanjutnya akan selalu berupaya wewujudkan kehendak Allah di muka bumi. 

 

3.4  Akhlak muslim sebagai mahluk sosial

   Islam menaruh perhatian khusus terhadap pembentukan akhlak dan tata cara bergaul dan berinteraksi dengan masyarakat. Islam menyeru kepada manusia dan menggerakkan mereka sebagai warga masyarakat agar  mendatangkan  kemanfaatan kepada sesamanya, sebagai makhluk fungsional. Setiap muslim harus berusaha untuk memberikan kontribusi dan peran nyata yang bermanfaat, sehingga menjadikan kehidupan di dalam masyarakat ini sebagai kesempatan untuk mengaktualisasikan kemampuan dirinya. 

      Rasulullah Saw. bersabda:

خير الناس أنفعهم للناس

          ”Sebaik baik manusia adalah yang lebih bermanfaat bagi manusia” (Riwayat Thabrani).

Sebagai makhluk sosial, seorang muslim diperintahkan memberikan pertolongan dan bantuan kepada sesama. Kaum muslimin tidaklah dilarang untuk bermu’amalah dengan orang yang bukan muslim. Ini berdasar firman Allah dalam surat Al Mumtahanah (30:8):

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ(8)

”Sesungguhnya Allah tidak melarang kamu berbuat kebaikan dan bersikap jujur terhadap orang-orang  yang tak memerangimu karena agama dan mengusirmu dari kampungmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang jujur”.

Sebagian dari akhlak mulia yang harus dipunyai seorang muslim dalam kapasitasnya sebagai makhluk sosial adalah seperti berikut ini.

a. Bersikap lemah lembut

Rasulullah Saw selalu bersikap lemah lembut kepada siapa saja yang dijumpainya, baik kepada para sahabat r.a., sanak saudara, raja-raja, para pedagang, anak-anak, maupun wanita. Nabi Saw tidak membedakan pangkat, derajat dan kedudukan,  kaya atau miskin dalam memperlakukan mereka. Sikap kasar dan hati bengis akan menjauhkan manusia, membuat rasa benci dan permusuhan, dan itu sangat ditentang oleh Islam, sebagaimana ditegaskan oleh firman Allah dalam surat Ali Imran (3:159):

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Dengan lantaran rahmat Allah, engkau (Muhammad) bersikap lemah lembut terhadap mereka. Seandainya kamu berlaku kasar dan berhati bengis, tentulah mereka akan meninggalkan kamu”.

 

Rasulullah selalu bersikap lemah lembut dan halus dalam tutur kata, tingkah laku dan perbuatan serta selalu  tersenyum dengan menundukkan wajah sebagai tanda hormat, sebagaimana sabda beliau yang artinya:

“Hendaklah kamu saling menghormati satu sama lain dan janganlah menganiaya dan jangan pula berlaku sombong kepada orang lain (Hadis Muslim).

 

Saling menghormati, tidak menganiaya dan tidak berlaku sombong adalah kunci sukses di dalam pergaulan dan   berinteraksi dengan orang lain  yang ditunjukkan dengan sikap lemah lembut.

 

b. Mendo’akan orang bersin

Apabila seseorang bersin kemudian mengucapkan alhamdulillah,  maka kita wajib mentasymithkan (mendo’akan) dengan ucapan yarhamukallah (mudah-mudahan Allah merahmatimu). Selanjutnya orang yang bersin juga harus menyambut dengan ucapan: yahdiikumullahu wa yushlihu baalakum (mudah-mudahan Allah menunjuki kamu dan memperbaiki keadaan kamu). Telah bersabda Nabi Saw yang artinya:

”Al Barra’ bin Azib r.a. berkata, Nabi Saw menyuruh menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah, menyambut do’a orang bersin, menepati sumpah, menolong orang teraniaya, mendatangi undangan, dan menebarkan salam.” (Hadis Bukhari dan Muslim)

Bersin yang ditasymithkan adalah yang tidak lebih dari tiga kali secara berturutan, sebab bila lebih maka kemungkinan merupakan indikasi (gejala) sakit flu.

 

c. Menjaga perasaan orang lain dan saling menyayangi

Rasulullah Saw menaruh perhatian yang besar pada tampilan lahir yang memancar dari budi pekerti yang baik yaitu dengan saling menjaga perasaan dan menyayangi.

Rasulullah bersabda:

إذا كنتم ثلاثة فلا تنا جي إثنان دون الأخر حتى تختلطوا بالناس من أجل أن ذلك يحزنه

”Jika kamu bertiga  maka janganlah berbisik dua orang dengan meninggalkan orang yang ketiga sampai kamu berkumpul dengan orang banyak sebab hal yang demikian itu menyedihkannya.” (Hadis Bukhari Muslim)

Anjuran untuk saling menyayangi, dinyatakan dalam sabda Nabi Saw:

من لايرحم لا يرحم

”Siapa yang tidak sayang kepada hamba Allah maka dia takkan dikasihi Allah”. (Hadis Bukhari Muslim)

d. Saling tolong menolong

Sikap tolong menolong dan saling membantu sesama adalah bersifat naluriah. Kemajuan usaha manusia hanya akan terwujud, jika tercapai kerjasama yang saling menguntungkan sebagai bangunan yang saling memperkuat satu sama lainnya. Islam mengajarkan prinsip tolong menolong adalam hal kebajikan, sebagaimana firman Allah:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ(2)

“Dan bertolong menolonglah kamu atas kebajikan dan takwa. Dan janganlah kamu tolong menolong atas dosa dan permusuhan…”(Al-Maidah (4): 2)

 

Kata al-birr secara etimologis adalah taat, amal saleh, kekuasaan, kebajikan, memberi pertolongan dan berlaku benar. Sedangkan arti secara terminologis searti dengan iman itu sendiri, karena iman akan membuahkan amal saleh, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Ali Imran: 92;

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ

 ‘Tidaklah sekali-kali kamu mencapai kebajikan (al-birr) sehingga kamu membelanjakan sebagian harta yang kamu cintai”

 

e. Menjenguk orang sakit

Menjenguk teman yang sedang sakit merupakan pemenuhan hak sesama muslim, sebagai rasa empati dan turut mendoakan agar lekas sembuh. Tuntunan menjenguk orang sakit adalah sebagai berikut:

  1. Usahakan agar rasa cemas dan kekhawatiran tidak mengganggu keseimbangan fisiknya. Bebaskan hatinya, dengan sedapat mungkin menggembirakan hatinya.

Rasulullah Saw bersabda dalam salah satu hadis yang artinya:

”Jika kamu mejenguk si sakit maka berikanlah harapan untuknya agar lanjut usia. Memang demikian itu tak dapat menolak takdir namun akan menenteramkan jiwa si sakit. Dan salawat dan salam dari Allah terlimpah atasnya.”

 

Kesempurnaan mengunjungi orang sakit adalah meletakkan tangan di atas kening si sakit atau memegang tangan si sakit seraya bertanya, bagaimana keadaannya (sekarang ini) dan kesempurnaan dalam bertanya ialah sambil berjabat tangan.

2. Terhadap orang yang sakit parah hendaknya diberi ketenangan jiwa agar tetap sabar dan berserah diri kepada Allah sambil mengucapkan do’a:

أسأل الله العظيم رب العرش العظيم أن يشفيك

“Aku mohon kepada Allah  Yang Maha Agung, dzat yang mengatur arasy yang agung semoga Ia menyembuhkan engkau.” (Hadis Abu Dawud & Turmudzi)

f. Berbuat baik kepada tetangga dan memuliakan tamu

Seorang muslim tidak akan mengganggu siapa pun dan selalu memuliakan tamu. Nabi bersabda yang artinya:

Demi Allah dia tidak beriman! Demi Allah dia tidak beriman! Demi Allah dia tidak beriman! Ketika ditanyakan, Siapa yang tidak beriman wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “orang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya.” (Hadis Bukhari, dari Abu Syaraih)

من كان يؤمن بالله واليوم الأخر فلايؤذي جاره و من كان يؤمن بالله واليوم الأخر فليكرم ضيفه و من كان يؤمن بالله واليوم الأخر فليقل خيرا أو ليسكت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat maka janganlah dia mengganggu  tetangganya, dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat hendaklah menghormati tamunya dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari kiamat hendaklah berkata yang baik atau diam saja.” (Hadis Bukhari dan Muslim).

Dalam Islam, semua orang yang tinggal dalam jarak yang dekat dengan seseorang dianggap tetangganya, dan orang yang tinggal paling dekat dengannya mempunyai hak paling tinggi.

g. Menjadi warga negara yang baik

Setiap warga negara berkewajiban untuk menjadi warga negara yang baik yakni:

  1. Harus menaati pemerintah selama mereka tidak bermaksiat kepada Allah dan Rasul. Hal ini di dasarkan pada ketentuan Al-Qur’an , An-Nisa’: 59, yang intinya menegaskan bahwa ketaatan itu hanya kepada Allah, Rasulullah dan Ulil Amri:
  2. Harus mengoreksi perjalanan negara yang menyimpang. Islam menghendaki sebuah kehidupan bernegara yang dinamis, sehingga kritik bukan saja merupakan sesuatu yang diperbolehkan, bahkan sebagai keharusan. Untuk itu hendaklah budaya kritik menjadi parameter keberuntungan umat Islam;
  3. Membela negara, sebagaimana tercantum dalam At-Taubah: 41yang mengajarkan bahwa setiap warga negara bertanggung jawab dalam mempertahankan dan membela negara. Tentu saja dalam keadaan yang mengharuskan demikian;
  4. Bertanggung jawab terhadap kelangsungan negara menuntut kesadaran setiap warga negara untuk saling memikul, saling tolong menolong dan bekerja sama dalam memajukan dan mendukung pencapaian kehidupan yang aman dan sejahtera.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Tafsir, 2000, Pendidikan Agama dalam Keluarga, PT Remaja Rodaskarya, Bandung.

 

Al-Khatib, Abdul Karim, 1982, Al-Muslimun wa Risalatuhum fi al-Hayah, Dar al-Kitab al-Arabi, Beirut.

 

Anshari, Endang Saifuddin, 1992, Kuliah Al-Islam, CV Rajawali, Jakarta.

 

Ash-Shiddieqy, M.T. Hasbi, 1977, Al-Islam I dan II, Bulan Bintang, Jakarta.

 

Faramarz bin Muhammad Rahbar,1999, Selamatkan Putra-putrimu dari Lingkungan tidak Islami, terjemahan Ahmad Baidhowi, Pustaka Pelajar Offset, Yogyakarta.

 

Salim Bahreisy, 1990, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir, jilid 1-6, Bina Ilmu Surabaya

Tasmara, Toto, 1995, Etos Kerja Pribadi Muslim, PT Dana Bakti Wakaf, Yogyakarta

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s